Friday, July 29, 2011

Aku dan Hidungku

 “Pssttt!! Hei Jake!! Pssst!! Kamu ngapain di situ?” suara si cantik Leslie mengagetkanku yang sedang menunduk di antara semak-semak di samping kantorku. Aku berjalan mendekat kearahnya.
“Diam Les. Aku lagi punya misi rahasia nih. Tugas dari si Bos,” aku berkata dengan nada bangga yang tak bisa aku sembunyikan.
Dahinya yang tertutupi bulu halus mengernyit bingung, “Tugas apaan sih? Kok kamu harus ngendap-ngendap gitu?”
“Duuh..ini misi rahasia. Aku diharuskan mencari sesuatu dengan menggunakan indera penciumanku. Kalau berhasil, aku bakalan dapet hadiah besar. Dijadiin karyawan tetap. Hidupku bakalan makmur, Les,” jelasku dengan mata berbinar. Leslie mengangguk paham.
“Mau aku bantu?” tawarnya. Aku langsung menolak dengan tegas.
“Nggak!! Jangan ngomong gitu Les. Nanti kalau ada yang denger gimana? Bisa-bisa usahaku dianggap nggak murni,” dengan panik aku menoleh ke sekelilingku. Hening. ‘Aman,’ pikirku.
“Udah ah. Kamu jauh-jauh dulu sana. Jangan deketin aku sampai aku berhasil nemuin apa yang aku cari yah..” usirku halus. Leslie pun mengerti dan beranjak pergi, meninggalkanku di antara semak belukar.
‘Duuuh.. mana sih barang yang Bos maksud? Dari tadi nggak kecium apa-apa. Huuuuufh…’  aku mengeluh dalam hati sambil berjalan menunduk, mengais tumpukan dedaunan dengan kakiku.
‘Uggh.. bau banget nih. Udah kayak rawa aja. Mana panas banget lagi. Duh..mana yah? Tinggal berapa menit lagi nih waktunya?’ aku mulai panik. Kepalaku semakin kutundukkan hingga hampir menyentuh tanah. Aku semakin berkonsentrasi, mengerahkan segala kemampuan hidungku ini. Sesekali saat tercium bau samar yang kukenal, aku langsung berlari mendekat. Sampai tiba-tiba, kepalaku terantuk sesuatu. Mungkin, saking seriusnya aku berkonsentrasi dan menunduk, aku sampai tidak sadar dengan hal-hal di depanku.
Dan, benda yang tadi aku tabrak adalah sebuah kotak. Bewarna hitam. Aku dekatkan hidungku. ‘Yess!! Ini dia yang aku cari!! Baunya sama persis! Yaaaaay!!’ Aku bersorak kegirangan. Tak lama kemudian, dari kejauhan kulihat Bos kesayanganku itu berlari mendekat. Aku rasa ia sudah mendengar sorakanku yang heboh barusan.
“Jake! Kamu berhasil. Hebat hebat!” Bosku itu langsung memelukku kencang-kencang. Sampai sesak nafasku. Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kalung, sepertinya.
“Jake, selamat yah. Dengan ini, kamu sekarang sudah resmi sebagai anggota tim. Nih kalungnya,” dengan lembut, Bosku itu memasangkan kalung di leherku. Ada tulisan di tengah bandul berbentuk bulat yang tergantung di kalung itu.
Jake, Anjing Pelacak Junior.

Wednesday, July 27, 2011

Bee-la Mata Ini Aku Pejamkan

Bila mata ini aku pejamkan,
apakah hati bisa beristirahat sejenak
dari segala kenangan yang sesakkan dada?

Bila mata ini aku pejamkan,
apakah ingatan tentang segala janji yang terlupa
akan ikut memudar?

Bila mata ini aku pejamkan,
akankah semesta mengizinkan lagi
segala kebetulan itu menjadi nyata,
bahkan hanya dalam dunia khayalku?

Bila mata ini aku pejamkan,
apakah mimpi akan pertemukan kita?
Hingga aku masih bisa berucap,
Ternyata Cinta masih ada untukku..

Dan bila mata ini aku pejamkan,
akankah sapa pagimu yang nanti menyambutku,
sampai saatnya kubuka kembali mataku ini?

Saturday, July 09, 2011

Inginku Bee-cara

Cintailah cinta, 
sebelum malam beranjak 
tinggalkan jejak dalam mimpi
karna kita tak satu dalam nyata

Katakanlah kata,
yang tak sempat kuucapkan dalam mimpi
biar nanti
pagiku yang akan menjengukmu diam-diam

Ceritakanlah cinta pada malam,
bibir ini ingin meracaukan namamu
dalam sunyi,
yang meniadakan senyap

Janjikanlah janji,
pada pagi yang terabaikan mentari,
dalam riak sungai yang selalu berandai-andai
Apa jadinya bila rindu telah usai??
 

Yang Tertinggal

Pada dedaunan layu,
ada untaian jaring laba-laba yang lingkupi tepi-tepi mimpi
agar tak lagi terasa sepi di malam hari

Pada tanah kecoklatan itu,
ada genangan air tetesan kesedihan dari semesta
yang bergumam sampai tempat akhir segala cerita

Pada kenangan masa lalu,
ada rasa yang tertinggal
seiring derap langkahmu yang melaju,
rindu untukmu

Sunday, June 26, 2011

MASIH

Mata ini menatap kearahmu
Bibir ini menyebut namamu
Dada ini bergetar untukmu

Thursday, June 16, 2011

Gravitasi














Kata yang pertama kali kudengarkan di bangku SD.
Tentang permainan semesta yang selalu menjatuhkan benda-benda ke bawah, menuju bumi agar tidak hilang melayang di angkasa luar.
Kata yang dulu aku kira hanya ada di dalam ilmu pasti dan eksakta.
Ah, ternyata aku salah. Ternyata aku memang manusia sejati yang tidak selalu benar.
Perasaan..
Cinta..
Adalah sesuatu yang tidak pernah pasti di dunia ini..
Pun untuk sesosok kamu.
Dan aku terperangkap dalam lingkup cintamu.
Berkali berulang aku jatuh
Hanya untuk singgahi hatimu yang tak lagi lapang menerimaku
Ternyata, seperti itulah gravitasi..
Pesonamu, selalu menarikku mendekat
Hingga menyebut namamu pun seolah dzikir bagiku
Cinta dan kenangan milikku tak pernah sanggup untuk melayang mengangkasa
Dalam detik yang tak pernah berhenti..
Aku terjatuh lagi..
Pada gravitasimu..

Something always brings me back to you.
It never takes too long.
No matter what I say or do I'll still feel you here 'til the moment I'm gone.

You hold me without touch.
You keep me without chains.
I never wanted anything so much than to drown in your love and not feel your reign.
 
Set me free, leave me be. I don't want to fall another moment into your gravity.
Here I am and I stand so tall, just the way I'm supposed to be.
But you're on to me and all over me.

You loved me 'cause I'm fragile.
When I thought that I was strong.
But you touch me for a little while and all my fragile strength is gone.
I live here on my knees as I try to make you see 
that you're everything I think I need here on
The ground.
But you're neither friend nor foe though I can't seem to let you go.
The one thing that I still know is that you're keeping me down

(inspired by Gravity – Sara Bareilles)

Sunday, June 12, 2011

Kamu Seksi Kok..

“Aku cantik nggak?”
Aku tertegun mendengar pertanyaan gadis di depanku.  Kemudian aku mengangguk perlahan. Malas. Acuh tak acuh. Sambil lalu kembali menyeruput minumanku yang masih tersisa banyak.
“Hmm… Kalau seksi?”
Lagi-lagi keluar pertanyaan yang membuatku jengkel dari bibirnya.
Aku hanya mengangguk. Lagi. Dan memalingkan mukaku.
Dan kesunyianku selama sedetik itu, terganggu oleh guncangan di tanganku.
“Kok diem sih? Serius nih. Aku beneran seksi nggak sih??” gadis di depanku itu mulai merengek kesal.
Aku menghela nafas pelan.
“Kamu mau aku jawab apa lagi sih?”
“Yaaaa.. jawab aja. Menurut kamu, aku seksi apa enggak?”
“Aduuuh… Kenapa sih kamu tiba-tiba ribut ngomongin tentang seksi-seksian segala?”
“Kan, katanya cowok itu suka sama cewek seksi..” jawabnya polos.
“Nah, kalo menurut kamu sendiri, seksi itu yang kayak gimana?”
“Ng.. Yang kayak J-lo, Beyonce, Aura Kasih. Yang cantik, badannya oke dan mulus..” aku mendengus mendengar jawabannya.
“Iiiiiiih… Kenapa sih emangnya?? Coba, sekarang menurut kamu, seksi itu gimana?”
“Hmmm… Kalau menurut aku, seksi itu..kamu,” jawabku yakin.
“Hah?! Serius? Masa sih? Aku beneran seksi menurut kamu??” jeritnya nggak percaya.
Aku mengangguk pasti.
“Iya, kamu itu pinter, smart, kalau diajakin ngobrol nyambung, selera humor kamu oke, kamu juga pengertian; kadang-kadang. Terus, kamu nggak pernah jaim di depan aku, apa adanya, jadi terkesan PeDe. Yah, intinya sih, aku nyaman deket-deket kamu. Karena menurut aku, seksi itu segala hal yang bisa bikin aku betah deket-deket kamu,” aku menjawab dengan senyuman lebar di wajahku.
“Ng.. makasih. Tapi kok.. semua yang kamu sebutin Cuma sifat aku aja? Secara fisik gimana? Aku nggak seksi yah?” tanya gadis di depanku sambil menahan kekecewaan.
Aku menghela nafas lelah untuk yang kesekian kalinya.
“Kamu serius nanyain hal itu ke aku?” tanyaku memastikan.
“Ya iyalah. Kan aku dari tadi juga nanya gitu.”
“Hhhh… Aldis, aku jawab seperti tadi itu ya, karena itu kesan yang aku dapat selama ini dari kamu. Bukannya kamu nggak seksi. Tapi, kalau kamu nanyain masalah fisik, aku rasa kamu salah alamat..” jelasku. Gadis di depanku itu terkesiap pelan.
“Iya Dis. Nggak pa-pa kalau kamu lupa. Aku juga minta maaf ya nggak bisa jawab pertanyaan kamu mengenai masalah fisik tadi. Tapi percaya deh sama aku. Kamu itu seksi kok. Meski mungkin aku nggak akan pernah bisa ngeliat keseksian fisik kamu itu. Yah, maklum ajalah Dis. Aku kan emang buta..”

His January..

Januari..
Kembali menanti
Pada mimpi
Dan juga pada rindu yang kini menghampiri

Aku pernah lupa akan hadirnya cinta
Aku juga pernah lupa betapa luka itu melukai
Pada Januari aku kembali meratapi
Seonggok puing cinta yang berserakan di taman hati

(Made for my lovely, black, mellow cousin: @iammarshel. Semoga renovasi hatimu cepat selesai.. :p) 

(Bukan) Janji Sang Merpati

(Catatan ketika terbangun dari mimpi buruk..)

Aku meratap sendu pada waktu, pada masa yang telah berjalan mendahului mimpi, pada rindu yang kembali menjelma rasa sakit dan lalu berdarah.
Dulu, pernah ada terucap sebuah janji, pada sang temu yang ingin bertandang.
Tiap detik kuhitung dengan hati-hati, menanti hingga terkadang melupakan waktu.
Saat itu, jendela adalah sahabat baikku, tempatku sandarkan berjuta pengharapan, akan sepasang kaki yang datang mendekat, akan seulas senyum yang terlekung di tengah kedua lesung pipit.
Sayang, mungkin mimpi adalah candu.
Serupa alkohol yang mampu memabukkan aku di tengah siang bolong, atau mungkin hanya sekedar nafsu yang seakan menghilangkan akal.
Aku menanti.
Aku berharap.
Pada janji yang ternyata (bukan) janji sang merpati.
Karena sang temu, tak datang untuk menjenguk jerit kesakitan ini.
(Bukan) janji sang merpati.
Berapapun lamanya kunanti.
Karena merpati tak pernah ingkar janji.








Monday, May 02, 2011

Yang Tak Pernah Aku Mengerti..

Rindu di dalam kantong jiwaku
Yang ada di setiap langkahku
Adalah milikmu
Sejak kutuliskan namamu di samping bintang benerang itu

Doa yang membakar rindu
Saat mimpi hadirkan kembali wajahmu
Adalah kado terindah untukku
Saat dunia jungkir balik di hadapanku

Aku tertegun dalam sunyi senyap malam
Menari dalam iringan irama muram
Lentera langit yang menerangi semakin kelam
Dan hanya ada aku dan nyawaku yang bersiam

Kamu dan hanya kamu…
Lakon utama di panggung cintaku
Tertawa dalam nada sumbang yang menatap haru padaku
Tiupkan ciuman dalam pelukan beku

Sampai kelu lidah ini menyebut namamu
Luluh lantak dalam dilema kesakitan
Andainya saja kamu pernah tahu
Betapa rindu ini membelenggu

(Sendiri dalam renungan malam, dan selalu bertanya, mengapa????)

Sunday, May 01, 2011

Untuk Rasa yang Selalu Menghantui..

Mungkin benar anggapan banyak orang, bahwa hantu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang menakutkan.
Terutama jika selalu menghantuimu.
Ada satu rasa, yang aku miliki, yang selalu, dari dulu hingga saat ini dan entah sampai kapan, terus menghantuiku.
Mengikuti setiap langkah yang ku ambil, setiap tikungan yang aku pilih
Terkadang aku bahkan bisa merasa menggigil
Bulu kuduk di sekitar tengkukku meremang memanjang
Dan tiap kali aku tolehkan kepalaku ke belakang tiba-tiba, rasa itu menghilang
Hanya nyeri yang terasa
Nyeri otot, nyeri dari gerakan bola mata, atau mungkin jenis nyeri yang menjalar dari sakit yang dirasakan oleh hatiku.
Entahlah.
Lalu aku coba untuk tidak menoleh lagi ke belakang, agar nyeri itu tidak lagi menyerang
Sampai aku bisa kembali bernapas dengan lega
Melonggarkan segala sesak dalam dada yang membuat aku megap-megap tanpa udara
Meskipun terkadang terlalu banyak godaannya, dan aku menoleh lagi sesekali, hingga akhirnya menghadap ke belakang..
Selalu begitu…
Berulang dan berulang..
Ah, itulah rasa yang menghatuiku
Yang entah sampai kapan akan pergi dengan tenang ke dunianya sendiri
Meninggalkan aku dan asaku di sini dalam damai
Rindu….
Bisakah aku minta pada semesta untuk menjarakkanku darimu?? 

Jika Bisa Kutampung

Jika seluruh air mata bisa kutampung
Jika tetesan yang bergulir bisa kuhitung
Tak akan ada istilah kekeringan
Hanya luapan aliran air yang berarus deras

Lebih dari separuh hidupku
Berpuluh bulan beratus minggu dan beribu hari
Entah mengapa tak akan ada jawabannya
Tak akan kering sedia ini

Rindu yang terucap untuk namamu
Berebut bersama derap langkah yang ingin menjauh
Aku luluh dalam perangkap
Terjerat tanpa mampu berarah

Ah, kamu…
Lagi dan lagi…
Selalu dan hanya satu,…
Ada dan tanpa tiada…

Seluruh rindu sudah tumpah
Ruah mengabur menjauh bersama angin

Jika air mata ini bisa kutampung
Hanya Tuhan yang akan mampu menadahnya
 

Bulan Penuh Cinta


Bulan penuh cinta, harapku.
Bulan serupa purnama yang sempurna melingkari seluruh harapan dan asa baru agar tidak terputus.
Bulan bagi para pecinta untuk mencintai cinta
Bulan yang menebarkan tawa di atas luka
Bulan untuk cinta yang baru














@Olga_imoet : Bulan baru mencinta, seakan larut dalam nuansa suka, dari dosa dan doa yang menyatu lalu jadi satu, dan aku terduduk membingkai harapan.

@Olga_imoet : Aku melukis senyummu di langit malam, dengan bintang sebagai binar matamu, yang menatap lurus ke hatiku.

@: adalah impian sang pemimpi, yg punya segudang harapan utk kamu jadikan nyata. Pemimpi itu, aku, tahu?

@ : Yang berpijar di matamu itu adalah aku, bintang benerang di antara kelamnya malam, bersuka merayakan kelahiran cinta.

@ : Serasa doa membakar rindu, saat mimpi menghadirkan kembali wajahmu.

@: Sempurna satu malam yang menggemakan rindu, hanya jika bulan menjatuhkan sinarnya tepat didadamu.

@Olga_imoet : Ikatan yang satukan kita adalah hiasan semata, hati yang sama mencinta, tanpa sendu atau dusta, menemani langkah kita.

@ : yang dapat menyatukan segala perbedaan, tangan-tangan saling menggenggam, dalam satu ikatan yang suci.

@Olga_imoet : Hijau-hijau di dinding, sejuknya bikin aku merinding, sayang, di depannya nanti, kita bersanding.



(Dari hati yang selalu belajar mencintai cinta....)

Monday, April 18, 2011

Rindu Sahabat

Ketika embun pagi menetes
Menuntaskan dahaga dalam lautan jingga
Satu jiwa telah terbangun
Membawa asa baru yang telah merekah
Ada hembusan angin….
Ada nyanyian burung….
Mengiringi tarian kita dalam kegelapan
Tapi kita musti  tersenyum
Tertawa dan tertawa meski mungkin tak lagi bingar
Kita bersama
Berjalan menembus jeratan kelam
Surut tapi tak menghilang
Karna kita terikat
Ikatan yang tak terlihat namun terasa ada
Hanya ada dan ada
Namun tidak memiliki 























-Saat termenung dalam hening malam, merindukan sahabat-sahabat tersayangku yang sedang berjuang meraih mimpinya masing-masing di berbagai penjuru dunia.. Really miss you, Guys... (^_^)-


Friday, April 01, 2011

Untukmu..

Saat bibir tak lagi bersuara
Saat suara akhirnya membisu
Itulah barisan kalimat yang terangkai dalam lembaran tulisan yang kini berbicara

Isak tangis manusia
Gelak tawa anak kecil
Haru biru buncahan perasaan
Merangkumkan kisahnya dalam buntalan kertas putih

Sandiwara yang diciptakan para pemimpin
Lakon yang membuat lelucon menjadi nyata

Hilang sudah tempat berkeluh kesah
Bagai senja yang perlahan menghilang oleh pekatnya malam

Kalau saja hasrat masih ada
Kalau saja ingin selalu terucap
Kalau saja niat dapat terdengar

Kenangan itu tak akan pernah hilang
Rekaman itu tak akan pernah musnah
Dokumentasi itu tak akan pernah pudar

Untukmu…
Barisan tulisan yang membawa arti bagi negeri












(Proyek Bergerak Untuk Sastra : #koinsastra )

Monday, March 28, 2011

Purnama..


Dan sempurnalah satu purnama..
Saat sinarnya jatuh ke wajahnya..
Tapi awan hitam itu tak mau pergi..
Terus membayangi dan menutup ceria malam..
Aku disini menatapnya..
Jauh...
Hanya berduka..















(Anonymous)

Friday, March 25, 2011

DIA, Cahayaku...

Aku sudah terbiasa dengan segala macam kegelapan di dunia ini. Birunya langit, terangnya sinar mentari, beranekanya warna bunga. Bagiku semua terasa sekelam langit malam. Hanya suara-suara yang terdengar di telingakulah yang selalu menjadi penghubungku dengan dunia luar. Diluar kegelapan yang selalu melingkupiku.
Ada seseorang yang pernah berkata padaku, bahwa dalam gelap, pastilah ada petunjuk yang akan membimbingmu menuju dunia cahaya. Dan aku tidak pernah mengerti apa maksud kata-katanya itu. Tidak saat itu, maupun saat ini. Seandainya aku tidak bertemu dengan DIA.
“Kamu tau, mawar itu nggak cuma berwarna merah loh..” katanya padaku. Ingin mengenalkanku pada keindahan bunga mawar yang selama ini hanya bisa aku ciumi saja wanginya.
“Bulan itu punya bermacam-macam bentuk. Tapi aku paling suka saat bulan berbentuk bulat penuh. Purnama. Full moon,” jelasnya lagi di lain kesempatan. Romantis, katanya, bulan purnama itu. Karna sinarnya paling terang diantara malam-malam yang lain. Membantu kita agar kita tidak tersesat di saat tidak ada cahaya apapun.
“Musim gugur, itulah saat dimana pepohonan yang tadinya memiliki daun berwarna hijau, lalu mulai menguning dan jatuh satu-persatu..” Satu dari empat musim yang paling disukainya.
“Dan langit, tidak selalu berwarna biru cerah. Ada kalanya langit menjadi gelap. Kelam. Kelabu. Tanda bahwa semesta ingin menangis…” katanya mencoba menghiburku saat kesedihan melandaku. Bahwa rasa sedih itu wajar adanya. Bukan Cuma aku yang bisa merasakan kesedihan. Bahkan semesta raya yang begitu agung pun, terkadang bisa menangis.
Tak terhitung banyaknya cerita yang dia sampaikan padaku. Dia menjadi cahaya bagiku di antara semua hari gelapku. Dan dia menjadi mataku. Untuk menikmati semua keindahan yang ditawarkan dunia. Dalam arti yang sesungguhnya.
“Ilonka.. operasi kamu sukses. Sekarang, coba dibuka matamu perlahan yaa..” suara yang sudah akrab di telingaku selama 1 bulan ini memerintahku untuk membuka mata. Aku menurutinya tanpa ragu. Silau. Perih. Itu yang aku rasakan, saat aku membuka mataku pertama kalinya, setelah suaranya yang selalu mendongengkan tentang keindahan dunia itu tidak pernah terdengar lagi di telingaku. Menghilang dengan tiba-tiba.
Hampa. Rasa yang lebih mendominasi perasaanku. Meskipun berjuta warna yang selama ini hanya pernah aku ketahui dari cerita, sudah bisa aku saksikan sendiri. Dengan mata ini. Mata pemberiannya. Mata seorang donor yang selama 3 tahun ini selalu ada disampingku. Yang selalu bercerita tentang semua hal yang pernah disaksikannya melalui sepasang mata, yang saat ini mulai mengeluarkan cairan bening yang terasa agak asin di pipiku. Dia. Yang pergi dengan seuntai pesan untukku.
“Nikmatilah hari-harimu. Lihatlah semua hal yang selalu ingin kamu lihat selama ini. Dan juga, gantikan aku menyaksikan kebahagiaanmu mulai saat ini. Mata ini, akan mengggantikanku menjagamu. Akan memberikan sinar yang menuntunmu di dalam kegelapan. Cahaya itu selalu ada.. Untukmu…” pesannya untukku.












Dia. Cahayaku. Cintaku. Yang telah pergi…

Everytime...

I'm afraid I'm starting to feel
What I said I would not do
Aku pernah jatuh cinta. Pernah juga patah hati. Ketika cinta datang mengetuk, selalu kubukakan pintuku lebar-lebar. Menghirup udara kasih sebanyak yang aku mampu.
One half want me to go
Other half wants me to stay
I just get so all confused
Tapi cinta hanya mampir. Tak pernah ia tinggal lama dalam ruang yang aku punya. Ia selalu mencela keadaan. Tak pernah nyaman dalam kekelaman.
Akhirnya kubiarkan ia pergi. Walau suguhan yang telah kusiapkan bahkan tak tersentuh. Aku merasa ditolak oleh keadaan. Oleh kesemuan yang selalu hadir. Yang mengganti sebuah nama untuk terus melukai dengan lebih dalam.
The last time really hurt me
I'm scared to fall in love
Cause every time I see your face
My heart does begin to race every time
Ketika mereka mencoba berkata, sudah terlanjur kututup daun telingaku ini. Aku menjadi buta dan tuli dihadapan mereka. Tapi tidak bisu. Agar aku masih bisa berteriak dengan lantang di setiap celah dan lubang dunia.
Berkata bahwa aku ingin suguhanku disentuh dengan kehangatan. Bahwa dalam gelap itu, masih ada setitik cahaya terang.
Tapi takdir malah tertawa. Ia tak pernah melihat dan mendengar jeritanku. Karna kini ia menjadi buta dan tuli. Hanya tertawa dan tersenyum.
But every time your love is near
And every time I'm filled with fear
Dan waktu cinta datang lagi, mengetuk untuk yang kesekian kali. Aku sungguh merasa takut. Takut bahwa ia hanya akan mempermainkanku.
I'm scared to fall in love
Afraid to love so fast
'Cause every time I fall in love
It seems to never last
Dalam kebutaan dan ketulianku yang hanya bisa menjerit kesakitan.
Could it be that this will be the one that lasts
The fear does start to erase every time
Oh could it be that this will be the one that lasts
For all my times

(Everytime by Janet Jackson) 

Monday, March 21, 2011

Dalam Diam, diantara Rintik Hujan..

Kamu bukan laki-laki romantis. Boro-boro ngebeliin aku bunga, ngomong “I Love You” aja cuma sekali. Itu juga karna kita berantem hebat dan aku minta putus dari kamu. Saat itulah, kamu, untuk pertama kalinya bilang kalo kamu cinta sama aku. Kalo kamu nggak pengen kehilangan aku. See?? Nggak romantis kan kamu?? Tapi…. Kamu suka hujan. Entahlah. Itu hanya pemikiran aku aja sih. Karna setiap kali hujan turun, kamu seringkali terdiam, memalingkan muka kearah jendela yang bisa memperlihatkan tetesan air hujan untukmu. Dan matamu, berubah menjadi sendu. Hmmm.. kamu nggak romantis, tapi kamu melankolis…
***
“Kar…kamu bengong lagi deh,” panggilku untuk yang ketiga kalinya. Dan kali ini, Karsa mendengar.
“Hah? Kamu ngomong apa?” aku merengut kesal.
“Huuuh..kamu itu ngeselin banget sih?Kenapa kamu selalu bengong mendadak sih kalo hujan turun??” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Karsa mengerutkan alisnya. Bingung.
“Maksud kamu? Aku nggak ngerti..”
“Ya itu. Setiap kali hujan turun, kamu pasti langsung terdiam. Langsung melirik kearah jendela. Ngeliatin hujan. Kenapa sih? Segitu sukanya sama hujan ya? Ada kenangan manis saat hujan dulu??” aku nyerocos tanpa henti. Karsa yang tadinya bengong, sekarang menatapku sambil tersenyum geli.
“Hihihihi… Miranda…Miranda, kenapa kamu punya pikiran aneh gitu sih? Emangnya aku itu kamu? Yang moodnya berbanding lurus dengan perubahan cuaca. Coba kalo lagi cerah, kamu pasti ketawa-ketawa. Terus, kamu juga selalu mellow setiap kali mendung. Nah, emang aku gitu?” Karsa balik bertanya.
“Huuuuh.. Semua kata-kata aku pasti diputer-balikan..” aku tambah manyun. Karsa hanya tergelak dan mengelus rambutku pelan.
“Aku suka hujan, karna menurut aku, hujan itu membawa rezeki. Walau sekarang sih seringnya bawa bencana. Yaah, dulu sih mama sering ngajarin aku buat sekedar bersyukur begitu hujan datang. Karna hujan itu datangnya dari langit. Dan di langit itu ada Tuhan. Dan juga, segala sesuatu yang datang dari Tuhan, adalah yang terbaik untuk kita…” jelas Karsa. Aku hanya bisa termenung mendengarkan ucapannya.
“Mir..?” panggil Karsa pelan ketika aku tak bereaksi.
“Eh.. hmm..aku speechless.. Gak nyangka aja kamu punya pikiran kayak gitu. Kirain…” Karsa langsung memotong ucapanku.
“Apa? Kamu ngiranya aku diem kalo hujan karna aku punya kenangan sedih saat hujan? Kayak diputusin di bawah rintik hujan, gitu??” Karsa tertawa mendengar leluconnya sendiri. Aku hanya tertunduk malu.
“Uuugh.. udah ah. Gausa di bahas lagi tentang hujan. Aku kenyang nih. Abisin mie goreng aku dong..” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Kudorong  piring makanku kearah Karsa.
“Iiih, makanya tadi aku bilang, kalo kamu nggak suka mie goreng ya gausa mesen dong. Sayang kan…” Karsa menjitak kepalaku.
“Abisnyaaa..aku kan penasaran. Kenapa si kamu cinta banget ama mie goreng? Menu kamu nggak pernah berubah tiap kali kita makan disini..” kafe Starlight memang kafe favoritku dan Karsa. Karna di kafe inilah segala cerita cinta kami dimulai.
“Selera dong, Mir.. Orang kan beda-beda..” jawab Karsa sambil mulutnya mengunyah mie goreng kesukaannya.
“Ya ya ya ya… aku udah apal kata-kata kamu. Pasti abis itu kamu bakalan bilang, ‘lagian untuk cinta kan nggak butuh alasan. Justru kalo pake alasan, itu bukan cinta..’ iya kan??” aku menirukan kalimat Karsa dengan tepat dan membuatnya tersedak karna menahan tawa. Langsung kusodorkan gelasku kearahnya.
“Uhhuuuk.. hahahaha.. Kamu itu lucu banget si Mir???” Karsa mencubit pipiku dengan gemas. Aku langsung manyun dan menepis tangannya kasar. Huh, mentang-mentang dia 3 tahun lebih tua, aku selalu dianggapnya anak-anak.
Karsa sendiri tampak tidak perduli dan terus melanjutkan makannya. Menghabiskan porsi mie gorengku.
Aku, yang lalu sibuk dengan ipod dan BB-ku, tidak sadar sudah beberapa saat berlalu. Sampai Karsa menyentuh lenganku perlahan.
Aku mengangkat alis dan menatapnya, sambil melepaskan earphone dari telingaku.
“Ya? Kamu uda selesai makannya?”
Karsa mengangguk. Dan saat itulah aku sadar bahwa meja di depanku sudah bersih dari segala macam piring bekas makan dan gelas.
“Kamu udah mau pulang?” tanyaku lagi. Kali ini Karsa menggeleng.
“Kamu gak mau mesen dessert Mir? Biasanya kamu suka waffle coklat kan?”
“Iyah. Emang aku mau mesen. Hehehehe…” Karsa lalu berdiri.
“Yaudah. Aku pesenin deh, sekalian mu ke kamar mandi.”
Aku hanya mengangguk dan memasang kembali earphoneku. Dan lagi, aku tenggelam dalam keasyikanku sendiri sampai tidak menyadari kehadiran Joni, pelayan kafe yang awalnya menjadi cupid untukku dan Karsa.
“Hei Jon. Lo berdiri dari kapan disitu? Bukannya manggil…” kataku sambil nyengir nggak enak ngeliat Joni mulai manyun.
“Iiiih… gue udah manggil kaleeee. Tapi lo ajah yang gak denger. Huuuuuh… pegel nih cyiin!" Joni mengeluarkan bahasa gaulnya, lengkap dengan gaya melambainya, membuatku tergelak.
“Huuh, ketawa melulu. Udah ah, tuh wafflenya. Selamat menikmati. Oya, cyyiin.. Karsa itu cinta banget ya ama kamu.. beruntung banget deeeh kamu cyyiin…Jangan dilepas yaaaah…” Joni mengedipkan sebelah matanya padaku dan berlalu sambil bersiul-siul. Aku menatapnya bingung sesaat, tapi kemudian aku memutuskan untuk tidak memusingkan kata-kata Joni. Dia emang aneh sih.
Aku dengan santai melahap potongan-potongan waffleku, sampai Karsa datang dan duduk lagi didepanku.
“Lama amat sih? Kamu mau nggak?” tanyaku sambil bersiap menyuapkan potongan waffle ke dalam mulutnya. Karsa menggeleng.
“Kamu abisin aja semuanya. Nggak boleh ada sisa yaaa…” aku mengangguk. Menikmati waffleku. Karsa hanya menatapku. Aku meneliti wajahnya sebentar sebelum melanjutkan suapanku. Tatapannya cemas. Aku letakkan kembali garpuku.
“Kar, kamu kenapa? Muka kamu pucat loh..” aku menyentuh dahinya perlahan. Dingin. Karsa menepis pelan tanganku, sambil tersenyum.
“Aku nggak sakit kok. Gih, abisin waffle kamu. Es krimnya udah mulai cair tuh. Buruan dimakan…” Karsa mengalihkan perhatianku. Aku mengangkat bahu, dan melanjutkan kembali makanku. Karsa memang begitu. Kalau lagi ada masalah, dia akan diam sampai ngerasa tenang baru mau cerita. Jadi, ya tugasku hanya menemaninya dalam diam.
Aku terus makan sambil sesekali melirik kearahnya yang masih menatapku. Tajam. Tiba-tiba,
“Auuw… aduuh, apaan nih?” teriakku kaget sambil memuntahkan isi mulutku ke tangan. Ada sesuatu yang keras di dalam waffleku. Atau es krimku? Entahlah. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Mataku sibuk melirik Karsa tadi.
Aku melihat kearah telapak tanganku yang berisi lelehan es krim dari mulutku. Aku ambil tissue dan buru-buru melap tanganku. Sempat kulirik Karsa. Anehnya dia tidak bereaksi sama sekali. Aku menggeleng bingung.
Dan keherananku, jadi tidak ada artinya saat aku menatap telapak tangan kananku yang sudah bersih dari lelehan es krim. Aku tertegun. Cincin? Sedetik kemudian otakku mulai bekerja. Ada cincin. Di dalam es krimku. Dan Karsa yang memesannya tadi. Aku langsung merasakan bahwa mukaku memerah. Deg-degan.Dengan takut-takut aku mengangkat mukaku, menatap lurus kearah Karsa yang masih diam di depanku. Dan Karsa tersenyum gugup.
So?” aku diam. Bingung dengan pertanyaannya. Karsa rupanya mengerti kebingunganku.
“Ng.. aku sedang ngelamar kamu, Mir. Ng.. so?” Karsa bertanya gugup. Mukanya memerah. Lucu sekali. Ingin rasanya aku tertawa kalau nggak ingat bahwa suasana ini mestinya romantis. Ada rintik hujan diluar, si Joni yang sedang memainkan lagu Marry Me milik Train dengan piano, dan cincin lamaran yang disembunyikan di dalam es krim! Romantis kan?? Mestinyaaa… Kalau saja Karsa nggak menutupnya dengan satu kata. ‘SO?’ Emangnya itu kata-kata lamaran ya?? Aku hanya bisa tersenyum geli. Aku lupa. Karsa kan memang nggak romantis. Menyiapkan semua ini aja, aku yakin udah bikin dia pusing. Aku menatapnya lagi.
“Kamu ngelamar aku?” tanyaku pede. Entah kenapa, rasa kaget, malu dan gugupku hilang.
Karsa mengangguk. “Kamu mau? Hmmm… menikah dengan aku?”
“Kenapa?” tanyaku iseng. Aku menikmati sekali semburat kemerahan di pipinya yang putih itu.
“Ng.. kenapa? Yaaah.. kan kita pacaran. Udah lumayan lama. 2 tahun. Dan..aku..aku ngerasa nyaman sama kamu. Aku ingin..ngabisin sisa hidup aku sama kamu..” jelas Karsa. Cukup panjang.
“Dan? Kenapa kamu mau ngabisin hidup kamu sama aku?” tanyaku lagi. Keras kepala. Karsa masih belum menyebut 3 kata itu. Kali ini dia terdiam. Menatap wajahku lama sebelum akhirnya menarik nafas.
“Aku cinta kamu, Miranda… dari dulu, sejak pertama kali ketemu di kafe ini. Sampai detik ini. Rasa itu nggak berkurang sedikitpun. Dan aku tahu pasti, kamu juga begitu. Lagipula, aku udah bilang kan tadi, buat aku, hujan itu turun membawa rezeki. Dan aku yakin, rezeki aku hari ini adalah, berhasilnya aku mendapatkan calon istri.. Nah, sudah cukup penjelasan aku? Kamu udah puas ngerjain aku? Kalau udah, giliran kamu yang jawab sekarang…” Karsa tersenyum manis. Dan memperlihatkan lesung pipi yang sangat aku sukai di kedua pipinya.
Ok, aku ralat kata-kata aku, bahwa Karsa itu nggak romantis. Dia cukup romantis kok. Buktinya, saat aku menganggukkan kepalaku, Karsa langsung tersenyum lega, dan berlutut di hadapanku. Memasangkan cincin di jari manis kiriku dan mengecupnya perlahan. See?? Karsa itu romantis. Meski mungkin hanya saat hujan turun…. ^_^

-Masih dari sumber inspirasi yang sama, yang digabungkan dengan sedikit harapan yang sudah (terpaksa) dilupakan. For you, dear my one and only inspiration, if you ever read this-