Wednesday, January 18, 2012
Ada Dia di Matamu..
Kamu bertanya kenapa aku tak pernah memandangmu lekat-lekat..
Kamu bertanya kenapa aku tak mau bericara padamu bertatapan muka..
Ada dia di matamu...
Sayangnya kamu tak tahu...
Katanya, sebagai ganti mata hati yang telah kehilangan cahaya oleh sebuah luka..
Sayang, kamu tak tahu dan tak akan pernah tahu...
-Proyek #15HariNgeblogFF day 6-
Jadilah Milikku, Mau?
Satu detik..
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Betapa aku menikmati permainan warna di wajahmu.
Merah saat kamu malu-malu bertanya padaku, "Jadilah milikku, mau?"
Satu detik..
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Lalu tiba-tiba mukamu memutih pasi saat aku menghela napas panjang...
Satu detik..
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Dan akhirnya warna mukamu kembali merah saat aku mengangguk dan tersenyum manis padamu...
Ah, sampai kapanpun, rasanya aku tak akan pernah bosan memandang wajahmu...
-Proyek #15HariNgeblogFF day 5-
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Betapa aku menikmati permainan warna di wajahmu.
Merah saat kamu malu-malu bertanya padaku, "Jadilah milikku, mau?"
Satu detik..
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Lalu tiba-tiba mukamu memutih pasi saat aku menghela napas panjang...
Satu detik..
Dua detik..
Semenit..
Dua menit..
Dan akhirnya warna mukamu kembali merah saat aku mengangguk dan tersenyum manis padamu...
Ah, sampai kapanpun, rasanya aku tak akan pernah bosan memandang wajahmu...
-Proyek #15HariNgeblogFF day 5-
Sunday, January 15, 2012
"Aku maunya kamu, titik!"
Aku menghela napas berkali-kali. Harus bagaimana lagi menjelaskan padanya kalau aku nggak bisa. Nggak bisa dan nggak mau, tepatnya.
Angin menampar-nampar perlahan pipiku dan pipinya. Aku terdiam menatap ombak yang saling berkejaran di tepi pantai sana.
Di sampingku ada gadis manis yang sudah lama kutaksir. Duduk bersila sambil sesekali bermain pasir, atau hanya menuliskan sesuatu di atasnya. Manis sekali. Seorang gadis mungil yang mandiri dan pekerja keras. Artis terbaik di klub drama kampusku. Dan sekarang, dia sedang merayuku untuk menjadi salah satu pemeran dalam drama terbarunya, yang jelas pasti akan merusak image-ku sebagai cowok cool di depannya.
"Kenapa sih kamu nggak mau?" tanyanya lirih. Aku terdiam. bingung harus menjawab apa. Bukannya sudah jelas ya? Kugaruk kepalaku yang tidak gatal itu.
"Lah, kamu sendiri, kenapa milih aku? Aku kan bukan anggota klub drama kamu?" aku balik bertanya.
"Yaaaah... Aku maunya kamu, titik!" katanya keras kepala.
Urggggh.... bagaimana caranya sekarang aku menolak gadis yang aku taksir, mengatakan kalau aku tidak mau dan tidak sudi untuk bermain dalam dramanya, sebagai waria??!!
-Proyek #15HariNgeblogFF day 4-
Angin menampar-nampar perlahan pipiku dan pipinya. Aku terdiam menatap ombak yang saling berkejaran di tepi pantai sana.
Di sampingku ada gadis manis yang sudah lama kutaksir. Duduk bersila sambil sesekali bermain pasir, atau hanya menuliskan sesuatu di atasnya. Manis sekali. Seorang gadis mungil yang mandiri dan pekerja keras. Artis terbaik di klub drama kampusku. Dan sekarang, dia sedang merayuku untuk menjadi salah satu pemeran dalam drama terbarunya, yang jelas pasti akan merusak image-ku sebagai cowok cool di depannya.
"Kenapa sih kamu nggak mau?" tanyanya lirih. Aku terdiam. bingung harus menjawab apa. Bukannya sudah jelas ya? Kugaruk kepalaku yang tidak gatal itu.
"Lah, kamu sendiri, kenapa milih aku? Aku kan bukan anggota klub drama kamu?" aku balik bertanya.
"Yaaaah... Aku maunya kamu, titik!" katanya keras kepala.
Urggggh.... bagaimana caranya sekarang aku menolak gadis yang aku taksir, mengatakan kalau aku tidak mau dan tidak sudi untuk bermain dalam dramanya, sebagai waria??!!
-Proyek #15HariNgeblogFF day 4-
Saturday, January 14, 2012
"Kamu manis, kataku..."
Kadang, umur bisa menjadi suatu masalah dalam hidup. Apalagi bagi sesuatu yang mengandalkan kecantikan. Semakin bertambahnya umur, kecantikan bisa memudar. Itu yang kurasakan. Disaat kita menua, pilihan menjadi sangat terbatas. Tak ada lagi yang melirik kita. Apalagi ketika di sekitar kita, semuanya berumur lebih muda.
Makanya, aku sangat terkejut ketika pejantan itu menghampiriku. Aku menoleh, memastikan sekeliling bahwa memang aku yang ditujunya.
Aku menunduk malu ketika dia menyapa. Pelan sekali aku berbisik, "Aku? Kamu yakin?"
Dia hanya tersenyum dan semakin mendekat. Aku menutup mata rapat-rapat dan kurasakan sesuatu menyentuhku. Agak sakit, tapi aku menyukai sensasinya. Ah, memang ya, kalau jodoh nggak akan kemana...
"Yakin? Jelas... Kamu manis, kataku..." begitu jawabnya.
Aku, bunga mawar yang akhirnya dihampiri seekor lebah, tepat sebelum aku layu.
-Proyek #15HariNgeblogFF day 3-
Friday, January 13, 2012
Dag.. Dig.. Dug..
Jantungku berdebar kencang. Seingatku, ini pertama kalinya dalam hidupku aku merasa sepanik ini. 'Huuuft....' Aku menghela napas pelan untuk kesekian kalinya. Ruangan gelap ini semakin membuatku berkeringat dingin.
'Ya Tuhaaaan... Kenapa juga harus kuiyakan ajakan Rudi..' batinku putus asa. Terjebak dalam kondisi seperti ini bersamanya adalah sesuatu yang selalu aku hindari. Tapi, apa boleh buat, manusia terkadang tak punya pilihan dalam hidupnya. Apapun terpaksa harus dilakukan demi untuk bertahan hidup.
Gedubrak!! Kakiku menendang meja dan menjatuhkan sesuatu dari atasnya. Panik, aku melihat sekeliling. Hening.
"Pssst!!! Hati-hati Jeki!!" Rudi berbisik pelan di belakangku.
"Ayo cepat ambil yang bisa di bawa. Buruan ya! Waktu kita nggak banyak.."
Aku hanya mengangguk. Perasaanku semakin tidak enak. Biasanya kalau seperti ini ada hal buruk yang akan terjadi.
Dan benar saja, saat aku baru saja berjalan menuju sebuah ruangan di depanku, lampu tiba-tiba menyala. Uggh.... Aku benci kalau firasatku benar.
Panik untuk kesekian kalinya, aku berusaha mencari tempat persembunyian. Panggilan Rudi tak lagi kudengar.
"Siapa itu?" tiba-tiba ada suara merdu yang terdengar.
'Dag..dig..dug...' jantungku semakin berdebar kencang. Aku bahkan hampir bisa mendengar suara jantungku sendiri.
"Halooo...." suara itu semakin mendekati tempat persembunyianku.
'Dag..dig..dug...' kali ini kakiku yang gemetaran. Lemas sekali rasanya sampai aku ingin jatuh. Dan aku memang jatuh. Dalam hati aku mengumpat berkali-kali. Menyalahkan Rudi yang membuatku melakukan pekerjaan hina ini sekaligus berdoa agar malam ini aku bisa terselamatkan dari hal-hal buruk.
Sayangnya, jatuhku menimbulkan suara. Kali ini yang terdengar selain debar jantungku adalah langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku.
'Ya Tuhaaaaan.... Lindungi aku. Ampuni aku karena sudah berniat jahat. Tolong aku Tuhaaan....' aku berdoa dalam hati. Menjerit dalam hati, tepatnya.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Si pemilik suara merdu itu hanya tinggal membalikkan badannya ke kanan untuk melihatku yang bersembunyi di balik lemari buku.
"Siapa di sit..."
'Ya Tuhaaaaaan.....' Aku memejamkan mata ketika si pemilik suara merdu itu berbalik tepat di hadapanku.
Sedetik. Dua detik. Aku menunggu. Hening. Tak ada reaksi apa-apa dari si pemilik suara merdu. Penasaran, aku membuka mataku perlahan. Di hadapanku, ada gadis cantik dengan mata terbelalak indah, sedang memegang stik baseball di tangannya.
"Je....ki...?" Aku terkejut melihat namaku meluncur dari bibirnya yang merah merekah itu. Aku membuka mataku lebih lebar.
Astaga!!! Aku langsung mengutuki kebodohanku. Bagaimana aku bisa tidak sadar kalau ini adalah rumah gadis yang selama ini aku taksir???!!!
"Kamu....ngapain di sini??" tanya gadis di depanku yang masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya. Stik baseball di tangannya terlihat bergetar. Gadis itu ketakutan.
Dag...dig..dug.. 'Ya Tuhaaaan... Seandainya aku bisa menghilang...'
-Proyek #15HariNgeblogFF day 2-
'Ya Tuhaaaan... Kenapa juga harus kuiyakan ajakan Rudi..' batinku putus asa. Terjebak dalam kondisi seperti ini bersamanya adalah sesuatu yang selalu aku hindari. Tapi, apa boleh buat, manusia terkadang tak punya pilihan dalam hidupnya. Apapun terpaksa harus dilakukan demi untuk bertahan hidup.
Gedubrak!! Kakiku menendang meja dan menjatuhkan sesuatu dari atasnya. Panik, aku melihat sekeliling. Hening.
"Pssst!!! Hati-hati Jeki!!" Rudi berbisik pelan di belakangku.
"Ayo cepat ambil yang bisa di bawa. Buruan ya! Waktu kita nggak banyak.."
Aku hanya mengangguk. Perasaanku semakin tidak enak. Biasanya kalau seperti ini ada hal buruk yang akan terjadi.
Dan benar saja, saat aku baru saja berjalan menuju sebuah ruangan di depanku, lampu tiba-tiba menyala. Uggh.... Aku benci kalau firasatku benar.
Panik untuk kesekian kalinya, aku berusaha mencari tempat persembunyian. Panggilan Rudi tak lagi kudengar.
"Siapa itu?" tiba-tiba ada suara merdu yang terdengar.
'Dag..dig..dug...' jantungku semakin berdebar kencang. Aku bahkan hampir bisa mendengar suara jantungku sendiri.
"Halooo...." suara itu semakin mendekati tempat persembunyianku.
'Dag..dig..dug...' kali ini kakiku yang gemetaran. Lemas sekali rasanya sampai aku ingin jatuh. Dan aku memang jatuh. Dalam hati aku mengumpat berkali-kali. Menyalahkan Rudi yang membuatku melakukan pekerjaan hina ini sekaligus berdoa agar malam ini aku bisa terselamatkan dari hal-hal buruk.
Sayangnya, jatuhku menimbulkan suara. Kali ini yang terdengar selain debar jantungku adalah langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku.
'Ya Tuhaaaaan.... Lindungi aku. Ampuni aku karena sudah berniat jahat. Tolong aku Tuhaaan....' aku berdoa dalam hati. Menjerit dalam hati, tepatnya.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Si pemilik suara merdu itu hanya tinggal membalikkan badannya ke kanan untuk melihatku yang bersembunyi di balik lemari buku.
"Siapa di sit..."
'Ya Tuhaaaaaan.....' Aku memejamkan mata ketika si pemilik suara merdu itu berbalik tepat di hadapanku.
Sedetik. Dua detik. Aku menunggu. Hening. Tak ada reaksi apa-apa dari si pemilik suara merdu. Penasaran, aku membuka mataku perlahan. Di hadapanku, ada gadis cantik dengan mata terbelalak indah, sedang memegang stik baseball di tangannya.
"Je....ki...?" Aku terkejut melihat namaku meluncur dari bibirnya yang merah merekah itu. Aku membuka mataku lebih lebar.
Astaga!!! Aku langsung mengutuki kebodohanku. Bagaimana aku bisa tidak sadar kalau ini adalah rumah gadis yang selama ini aku taksir???!!!
"Kamu....ngapain di sini??" tanya gadis di depanku yang masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya. Stik baseball di tangannya terlihat bergetar. Gadis itu ketakutan.
Dag...dig..dug.. 'Ya Tuhaaaan... Seandainya aku bisa menghilang...'
-Proyek #15HariNgeblogFF day 2-
Thursday, January 12, 2012
"Halo, siapa namamu?"
Pertemuan pertama dengannya menurutku sungguh aneh.
Dia cantik. Mungil. Putih. Rambutnya panjang. Bibirnya merah merekah. Mirip sekali dengan boneka Barbie kepunyaan Lisa, adikku.
Aku sering mengintip keluar jendela hanya untuk melihat sosoknya. Saat dia sedang duduk bersama temannya yang sama cantiknya. Terkadang aku bisa sampai lupa waktu. Hanya untuk melihatnya diam-diam dan mendengar suaranya. Hingga Mama masuk ke kamarku dan mengingatkan bahwa sekarang sudah waktunya tidur, karna aku harus sekolah keesokan harinya. Makanya, aku suka sekali malam Minggu. Karna Mama jarang mengecekku, apakah aku sudah tidur atau belum.
Aku penasaran sekali dengannya. Pernah suatu malam aku diam-diam keluar rumah, ingin melihat sosoknya dari dekat, tapi begitu aku sampai di pagar samping rumahku, sosoknya menghilang. Ah, mungkin karna sudah terlalu malam, pikirku. Bukannya semua anak seusiaku harus tidur cepat ya? Karna kata Mama, dalam masa pertumbuhan, anak-anak harus tidur cukup.
Akhirnya malam Minggu berikutnya aku keluar rumah, setelah sebelumnya memastikan dia ada di tempat biasanya, dengan mengintip keluar jendela terlebih dahulu.
Aku berjalan pelan-pelan agar Mama, Papa dan adikku tidak tahu aku keluar rumah. Aku memutari rumahku dengan jantung berdebar-debar. Tak sabar ingin segera berkenalan dengannya. Dan malam ini, nampaknya aku beruntung. Gadis mungil itu masih duduk di tempatnya. Sendiri.
Aku gugup. Perlahan sekali aku berdehem. Dia menoleh cepat ke arahku. Rupanya dia mendengar. Lama ditatapnya aku. Dan aku hanya bisa terdiam melihat wajah cantiknya.
"Ha..halo.. Siapa namamu?" aku memberanikan diri bertanya. Kutelan ludah berkali-kali, sambil menunggu reaksinya.
Matanya membelalak indah. "Kamu......bisa ngeliat aku?" pertanyaan aneh, menurutku, meski suaranya merdu sekali.
Sebelum aku menjawab, sebuah teriakan dari dalam rumah mengagetkan kami berdua.
"Rangga!! Kamu ngapain di situ? Mama kan udah bilang samping rumah kita itu angker. Jangan dekat-dekat makam itu, nak!" teriak Mama yang sudah berlari bersama Papa menyusulku.
Teriakan mereka membuat gadis cantik di atas pohon itu ketakutan. Sedetik setelah aku memalingkan wajahku kembali ke arahnya, gadis cantik itu melayang. Aku sampai takjub dibuatnya. Dia bisa terbang! Aku semakin kagum padanya. Sampai dia berbalik dan aku melihat sesuatu. Rambutnya yang panjang tertiup angin hingga menampakkan bagian punggungnya yang bolong. Iya, bolong.
Detik berikutnya, aku sudah berada di rumahku. Kata Mama aku pingsan. Mama bertanya apa yang kulihat. Aku hanya diam. Menelan ludah, pahit rasanya. Aku sedih. Pertemuan pertamaku dengannya, aku belum sempat mengetahui namanya. Tapi firasatku berkata, sepertinya, itu juga akan menjadi pertemuan terakhir dengannya.
-Proyek #15HariNgeblogFF day 1-
Dia cantik. Mungil. Putih. Rambutnya panjang. Bibirnya merah merekah. Mirip sekali dengan boneka Barbie kepunyaan Lisa, adikku.
Aku sering mengintip keluar jendela hanya untuk melihat sosoknya. Saat dia sedang duduk bersama temannya yang sama cantiknya. Terkadang aku bisa sampai lupa waktu. Hanya untuk melihatnya diam-diam dan mendengar suaranya. Hingga Mama masuk ke kamarku dan mengingatkan bahwa sekarang sudah waktunya tidur, karna aku harus sekolah keesokan harinya. Makanya, aku suka sekali malam Minggu. Karna Mama jarang mengecekku, apakah aku sudah tidur atau belum.
Aku penasaran sekali dengannya. Pernah suatu malam aku diam-diam keluar rumah, ingin melihat sosoknya dari dekat, tapi begitu aku sampai di pagar samping rumahku, sosoknya menghilang. Ah, mungkin karna sudah terlalu malam, pikirku. Bukannya semua anak seusiaku harus tidur cepat ya? Karna kata Mama, dalam masa pertumbuhan, anak-anak harus tidur cukup.
Akhirnya malam Minggu berikutnya aku keluar rumah, setelah sebelumnya memastikan dia ada di tempat biasanya, dengan mengintip keluar jendela terlebih dahulu.
Aku berjalan pelan-pelan agar Mama, Papa dan adikku tidak tahu aku keluar rumah. Aku memutari rumahku dengan jantung berdebar-debar. Tak sabar ingin segera berkenalan dengannya. Dan malam ini, nampaknya aku beruntung. Gadis mungil itu masih duduk di tempatnya. Sendiri.
Aku gugup. Perlahan sekali aku berdehem. Dia menoleh cepat ke arahku. Rupanya dia mendengar. Lama ditatapnya aku. Dan aku hanya bisa terdiam melihat wajah cantiknya.
"Ha..halo.. Siapa namamu?" aku memberanikan diri bertanya. Kutelan ludah berkali-kali, sambil menunggu reaksinya.
Matanya membelalak indah. "Kamu......bisa ngeliat aku?" pertanyaan aneh, menurutku, meski suaranya merdu sekali.
Sebelum aku menjawab, sebuah teriakan dari dalam rumah mengagetkan kami berdua.
"Rangga!! Kamu ngapain di situ? Mama kan udah bilang samping rumah kita itu angker. Jangan dekat-dekat makam itu, nak!" teriak Mama yang sudah berlari bersama Papa menyusulku.
Teriakan mereka membuat gadis cantik di atas pohon itu ketakutan. Sedetik setelah aku memalingkan wajahku kembali ke arahnya, gadis cantik itu melayang. Aku sampai takjub dibuatnya. Dia bisa terbang! Aku semakin kagum padanya. Sampai dia berbalik dan aku melihat sesuatu. Rambutnya yang panjang tertiup angin hingga menampakkan bagian punggungnya yang bolong. Iya, bolong.
Detik berikutnya, aku sudah berada di rumahku. Kata Mama aku pingsan. Mama bertanya apa yang kulihat. Aku hanya diam. Menelan ludah, pahit rasanya. Aku sedih. Pertemuan pertamaku dengannya, aku belum sempat mengetahui namanya. Tapi firasatku berkata, sepertinya, itu juga akan menjadi pertemuan terakhir dengannya.
-Proyek #15HariNgeblogFF day 1-
Sunday, January 08, 2012
Ternyata Cinta Adalah Kerinduan...
Di Senin yang dingin, #TernyataCinta hadir di antara hembusan angin. Tiupkan rindu yang mengalun sendu dalam ingin.
Aku mengejar asa di hari Selasa, dan #TernyataCinta bisa merasa. Jauh darimu aku tak akan pernah terbiasa.
Rabuku kelabu, #TernyataCinta seperti hati yang membeku. Kataku, itu rindu yang tak sabar untuk luluh di pelukmu.
Aku bisa tersenyum manis pada hari Kamis. Karena #TernyataCinta mengerti. Sabar menanti sampai hari berganti.
Semangatku menggelora di hari Jumat. #TernyataCintaku penuh hasrat, dan kini tangisku tak lagi pernah kumat.
Sabtu, hatiku tak lagi membatu. Sebab #TernyataCinta bisa menunggu. Seminggu berlalu, kini saatnya aku rebah di dadamu.
Dan Minggu, hatiku berdebar tak menentu. Meski #TernyataCinta untukmu tak akan berdebu, perpisahan tetap membuatku sendu.
Dan aku kembali merindukanmu....
Aku mengejar asa di hari Selasa, dan #TernyataCinta bisa merasa. Jauh darimu aku tak akan pernah terbiasa.
Rabuku kelabu, #TernyataCinta seperti hati yang membeku. Kataku, itu rindu yang tak sabar untuk luluh di pelukmu.
Aku bisa tersenyum manis pada hari Kamis. Karena #TernyataCinta mengerti. Sabar menanti sampai hari berganti.
Semangatku menggelora di hari Jumat. #TernyataCintaku penuh hasrat, dan kini tangisku tak lagi pernah kumat.
Sabtu, hatiku tak lagi membatu. Sebab #TernyataCinta bisa menunggu. Seminggu berlalu, kini saatnya aku rebah di dadamu.
Dan Minggu, hatiku berdebar tak menentu. Meski #TernyataCinta untukmu tak akan berdebu, perpisahan tetap membuatku sendu.
Dan aku kembali merindukanmu....
Hari Itu...
Akan kuselipkan satu hari di dalam ingatanku dan juga ingatanmu..
Hari di mana aku memutuskan untuk (berkata) berhenti mencintaimu…
Mungkin dengan begitu, kau akan terus mengingatku..
Meski sebagai duri yang menusuk jantungmu hingga berhenti mendetakkan cinta..
Iya, itu aku..
Yang pernah memutuskan untuk (berkata dengan bibirku) berhenti mencintaimu..
Tapi tidak dengan hatiku..
Hari di mana aku memutuskan untuk (berkata) berhenti mencintaimu…
Mungkin dengan begitu, kau akan terus mengingatku..
Meski sebagai duri yang menusuk jantungmu hingga berhenti mendetakkan cinta..
Iya, itu aku..
Yang pernah memutuskan untuk (berkata dengan bibirku) berhenti mencintaimu..
Tapi tidak dengan hatiku..
Saturday, January 07, 2012
Sepagi Ini, Aku Sudah Merindukanmu...
Sepagi ini sudah kuhitung rindu untukmu lewat rintikan hujan yang membeku..
Sepagi ini sudah kutulis namamu di jendela kamarku yang berembun..
Sepagi ini sudah kusebut namamu berulang kali dalam doa di atas sajadah hijauku..
Sepagi ini, sudah banyak ingatan tentangmu memenuhi kepalaku yang selalu denyutkan kerinduan..
Sepagi ini, sudahkah kamu merindukanku?
Sepagi ini sudah kutulis namamu di jendela kamarku yang berembun..
Sepagi ini sudah kusebut namamu berulang kali dalam doa di atas sajadah hijauku..
Sepagi ini, sudah banyak ingatan tentangmu memenuhi kepalaku yang selalu denyutkan kerinduan..
Sepagi ini, sudahkah kamu merindukanku?
Friday, January 06, 2012
Jelmakan Rindu
Akulah hujan, melarutkan kenangan.
Telah kupasrahkan segala angan, kini aku hanyalah bayangan.
Akulah petir, debar langit yang terkadang menangis getir.
Jerit kesakitan yang sering kau sebut takdir.
Akulah angin, meniupkan serpihan mimpi yang telah mendingin.
Desah mengalun sendu dalam ingin.
Aku bisa menjadi apapun untukmu.
Jelmakan rindu yang berlarut-larut tanpa temu.
Hingga akhirnya ingatan tentangmu berakhir semu.
Telah kupasrahkan segala angan, kini aku hanyalah bayangan.
Akulah petir, debar langit yang terkadang menangis getir.
Jerit kesakitan yang sering kau sebut takdir.
Akulah angin, meniupkan serpihan mimpi yang telah mendingin.
Desah mengalun sendu dalam ingin.
Aku bisa menjadi apapun untukmu.
Jelmakan rindu yang berlarut-larut tanpa temu.
Hingga akhirnya ingatan tentangmu berakhir semu.
Sunday, January 01, 2012
Pesan Pertama di Tahun Baru
"Pagi... Kamu udah bangun? Sakit ngga kepala kamu? Hangover ya? Dasar bandel! Hehehehe... Bangun gih! Aku tunggu di rumah yaaa... Daagh... Sayang kamu, banget!!!"
Aku terdiam membaca pesan itu.
'Sent: 09.00, Tue, January 01, 2011'
Satu tahun lalu.
Entah keajaiban apa yang akhirnya bisa menyalakan handphone di tanganku ini. Handphone yang dulu rusak terinjak saat aku mabuk-mabukan seminggu setelah pemakamanmu.
Entah ingatan apa juga yang telah membawaku memasuki ruang kerjaku, dan membuka laci yang sudah terkunci selama hampir setahun ini. Laci yang penuh barang-barang tentangmu.
Kubaca sekali lagi pesanmu. Dan terhenyak perlahan. Ada nyeri di dadaku.
"Rista.... hari ini aku nggak mabuk. Pesanmu jelas terbaca di mataku. Tak ada sakit kepala yang menyerangku saat terbangun, hingga harus merengek manja dan memintamu untuk datang, bukannya menemuimu seperti janjiku malam sebelumnya."
Berjuta kata seandainya sering aku ucapkan setahu belakangan ini.
"Ah Rista.. Seandainya saja, semua yang terjadi malam itu tidak terjadi, pasti pesanmu ini akan menjadi pesan pertama di handphoneku, pagi ini. Di tahun baru ini.
Bukan pesan terakhirmu, di hari terakhir hidupmu."
Aku terdiam membaca pesan itu.
'Sent: 09.00, Tue, January 01, 2011'
Satu tahun lalu.
Entah keajaiban apa yang akhirnya bisa menyalakan handphone di tanganku ini. Handphone yang dulu rusak terinjak saat aku mabuk-mabukan seminggu setelah pemakamanmu.
Entah ingatan apa juga yang telah membawaku memasuki ruang kerjaku, dan membuka laci yang sudah terkunci selama hampir setahun ini. Laci yang penuh barang-barang tentangmu.
Kubaca sekali lagi pesanmu. Dan terhenyak perlahan. Ada nyeri di dadaku.
"Rista.... hari ini aku nggak mabuk. Pesanmu jelas terbaca di mataku. Tak ada sakit kepala yang menyerangku saat terbangun, hingga harus merengek manja dan memintamu untuk datang, bukannya menemuimu seperti janjiku malam sebelumnya."
Berjuta kata seandainya sering aku ucapkan setahu belakangan ini.
"Ah Rista.. Seandainya saja, semua yang terjadi malam itu tidak terjadi, pasti pesanmu ini akan menjadi pesan pertama di handphoneku, pagi ini. Di tahun baru ini.
Bukan pesan terakhirmu, di hari terakhir hidupmu."
Happy New Year, The New Me...
Melepas kenangan, menggapai mimpi.
Dan doa adalah penuntun terbaik menuju kebahagiaan.
Selamat tahun baru, aku, diriku dan hatiku..
~2012, tahun yang (semoga) penuh dengan kebahagiaan~
Dan doa adalah penuntun terbaik menuju kebahagiaan.
Selamat tahun baru, aku, diriku dan hatiku..
~2012, tahun yang (semoga) penuh dengan kebahagiaan~
Monday, December 26, 2011
Sebuah Rasa Dalam Kemasan Baru...
Aku jatuh cinta, pada cinta yang lalu menjatuhiku.
Aku merindu, pada rindu yang selalu merindukanku.
Mungkin itu yang kusebut bahagia.
Lalu... Keabadian menertawakanku.
Hanya ketidakabadian yang abadi, katanya.
Pada mata, aku bercermin dan melihat duka.
Pada bibir, aku tersenyum dalam kemirisan.
Pada lidah, aku bergetar penuh rasa nyeri.
Dan pada hati, aku berdoa dalam kepasrahan.
Terbanglah luka..
Sampai sayapmu lelah mengepak..
Sampai semesta mengijinkanmu berevolusi demi untuk bertahan hidup.
Lalu kembali, dalam kemasan baru..
Sebuah rasa yang tak lagi berteriak penuh kesakitan...
Aku merindu, pada rindu yang selalu merindukanku.
Mungkin itu yang kusebut bahagia.
Lalu... Keabadian menertawakanku.
Hanya ketidakabadian yang abadi, katanya.
Pada mata, aku bercermin dan melihat duka.
Pada bibir, aku tersenyum dalam kemirisan.
Pada lidah, aku bergetar penuh rasa nyeri.
Dan pada hati, aku berdoa dalam kepasrahan.
Terbanglah luka..
Sampai sayapmu lelah mengepak..
Sampai semesta mengijinkanmu berevolusi demi untuk bertahan hidup.
Lalu kembali, dalam kemasan baru..
Sebuah rasa yang tak lagi berteriak penuh kesakitan...
Friday, December 16, 2011
Saat Kehilangan..
Kamu ada, dalam daftar nomor telpon di handphone-ku, namamu yang teratas ~ lalu semua terhapus
Kamu ada, saat berkumpul bersama teman-teman, senyummu masih terlihat ~ lalu tiba waktunya untuk pulang
Kamu ada, dalam tulisan-tulisanku, sebagai sumber inspirasiku ~ lalu segala cerita harus terselesaikan
Kamu ada, dalam mimpiku, sebagai sosok yang tak tersentuh oleh nyata ~ lalu aku harus terbangun saat pagi
Kamu ada, lalu tiada...
Mungkin itu yang kusebut dengan kehilangan...
Kamu ada, saat berkumpul bersama teman-teman, senyummu masih terlihat ~ lalu tiba waktunya untuk pulang
Kamu ada, dalam tulisan-tulisanku, sebagai sumber inspirasiku ~ lalu segala cerita harus terselesaikan
Kamu ada, dalam mimpiku, sebagai sosok yang tak tersentuh oleh nyata ~ lalu aku harus terbangun saat pagi
Kamu ada, lalu tiada...
Mungkin itu yang kusebut dengan kehilangan...
Monday, December 12, 2011
Tanpamu, (Bagaimana) Aku Akan Baik-Baik Saja?
Mia tertunduk lemas di depan tanah makam yang masih basah. Masih tercium wangi bunga-bunga yang di taburkan di atasnya.
Delima Windardjati binti Ismail
10-10-1955 s/d 13-12-2011
Matanya yang bengkak sudah kering sejak menginjakkan kaki di pemakaman umum ini. Mungkin, seluruh persediaan air matanya telah habis akibat menangis sepanjang perjalanan dari New York kemarin.
Mia hanya duduk diam di atas tanah basah kecoklatan itu. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Ironis memang, bila mengingat yang terbaring dengan tenang di hadapannya adalah ibu yang sudah tidak pernah ditemuinya selama 15 tahun. Ibu yang meninggalkannya sejak ia berumur 13 tahun.
"Miaaa..." pundaknya ditepuk oleh seseorang perlahan. Mia menoleh. Tante Ratna, sahabat baik ibunya sudah ikut jongkok di sampingnya. Tante Ratna hanya diam. Memandang lama ke arahnya lalu berpaling menatap gundukan tanah di depan mereka.
"Ini, Mi..." Mia menatap kosong ke arah tangan Tante Ratna yang terulur di depannya sambil menggenggam secarik kertas lusuh.
"Ambil Mi... Baca. Nanti Tante akan jelaskan semuanya. Kenapa mamamu dulu akhirnya memilih untuk melepaskanmu..."
Perlahan tangan Mia bergerak meraih keras itu. Dibukanya dan dibacanya perlahan. Dalam hati.
'Walau aku seandainya harus hidup tanpamu, aku akan baik-baik saja, mam......'
Tulisannya. 15 tahun yang lalu. Yang dituliskan di dalam buku hariannya sehari menjelang sidang akhir perceraian kedua orang tuanya. Sehari sebelum ibunya tiba-tiba berkata di pengadilan bahwa beliau melepaskan hak asuh atas dirinya.
Mia menatap Tante Ratna dengan pucat. "Iya, Mia.. Delima membacanya. Dia selalu berpikir bahwa kamu benar-benar membencinya. Apalagi dia menemukan kertas itu sehari setelah pertengkaran hebat kalian. Delima tau pasti kamu sangat sayang sama ayahmu, Mia. Makanya Delima rela melepaskanmu.."
Mia tertunduk diam. Perlahan meresapi ucapan Tante Ratna. Ingatannya mulai pulih. Halaman diary yang hilang. Sikap ibunya yang berubah. Perhatian berlebihan sang ayah yang tiba-tiba.
"Tante...," ucap Mia dengan susah payah, "tulisan ini belum selesai. Masih ada kalimat berikutnya yang terhapus dari sini...."
Tante Ratna menatapnya bingung.
'Walau aku seandainya harus hidup tanpamu, aku akan baik-baik saja, Mam. Karna aku akan selalu memiliki cinta darimu. Tapi Mam, karna aku cinta, bagaimana mungkin aku mau hidup tanpamu?'
Mia yakin dulu ia menuliskannya seperti itu...
(Cerita ini terinspirasi dari seorang teman. Yakinlah, semua pasti akan baik-baik saja..)
Delima Windardjati binti Ismail
10-10-1955 s/d 13-12-2011
Matanya yang bengkak sudah kering sejak menginjakkan kaki di pemakaman umum ini. Mungkin, seluruh persediaan air matanya telah habis akibat menangis sepanjang perjalanan dari New York kemarin.
Mia hanya duduk diam di atas tanah basah kecoklatan itu. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Ironis memang, bila mengingat yang terbaring dengan tenang di hadapannya adalah ibu yang sudah tidak pernah ditemuinya selama 15 tahun. Ibu yang meninggalkannya sejak ia berumur 13 tahun.
"Miaaa..." pundaknya ditepuk oleh seseorang perlahan. Mia menoleh. Tante Ratna, sahabat baik ibunya sudah ikut jongkok di sampingnya. Tante Ratna hanya diam. Memandang lama ke arahnya lalu berpaling menatap gundukan tanah di depan mereka.
"Ini, Mi..." Mia menatap kosong ke arah tangan Tante Ratna yang terulur di depannya sambil menggenggam secarik kertas lusuh.
"Ambil Mi... Baca. Nanti Tante akan jelaskan semuanya. Kenapa mamamu dulu akhirnya memilih untuk melepaskanmu..."
Perlahan tangan Mia bergerak meraih keras itu. Dibukanya dan dibacanya perlahan. Dalam hati.
'Walau aku seandainya harus hidup tanpamu, aku akan baik-baik saja, mam......'
Tulisannya. 15 tahun yang lalu. Yang dituliskan di dalam buku hariannya sehari menjelang sidang akhir perceraian kedua orang tuanya. Sehari sebelum ibunya tiba-tiba berkata di pengadilan bahwa beliau melepaskan hak asuh atas dirinya.
Mia menatap Tante Ratna dengan pucat. "Iya, Mia.. Delima membacanya. Dia selalu berpikir bahwa kamu benar-benar membencinya. Apalagi dia menemukan kertas itu sehari setelah pertengkaran hebat kalian. Delima tau pasti kamu sangat sayang sama ayahmu, Mia. Makanya Delima rela melepaskanmu.."
Mia tertunduk diam. Perlahan meresapi ucapan Tante Ratna. Ingatannya mulai pulih. Halaman diary yang hilang. Sikap ibunya yang berubah. Perhatian berlebihan sang ayah yang tiba-tiba.
"Tante...," ucap Mia dengan susah payah, "tulisan ini belum selesai. Masih ada kalimat berikutnya yang terhapus dari sini...."
Tante Ratna menatapnya bingung.
'Walau aku seandainya harus hidup tanpamu, aku akan baik-baik saja, Mam. Karna aku akan selalu memiliki cinta darimu. Tapi Mam, karna aku cinta, bagaimana mungkin aku mau hidup tanpamu?'
Mia yakin dulu ia menuliskannya seperti itu...
(Cerita ini terinspirasi dari seorang teman. Yakinlah, semua pasti akan baik-baik saja..)
Friday, December 02, 2011
Ajari Aku Mam...
Dear Mami,
Mam, kalo aku make kalimat “Aku saayaaaaaaang banget sama Mami” sebagai pembuka surat norak nggak? Hehehehe… Aku tau deh. Pasti Mami bakalan bilang aku gombal. Tapi ya Mam, aku juga tau pasti, di dalem hati, Mami pasti seneng dan terharu. Iya kan Mam? Ngaku deh. Hihihihihi..
Mam tau nggak, kemaren ini aku nemu sebuah sajak di twitter yang entah kenapa, menurut aku itu kata-katanya jleb banget.
“Bu, aku mencintainya. Setabah ibu, mencintai ayah.” -- @_ikik
Keren yah Mam sajaknya? Aku sukaaaa banget. Dan aku langsung teringat sama Mami. Iya, Mami. Orang yang menurut aku paling pantas dijadikan contoh, bagaimana sesungguhnya cara mencintai.
Dulu Mami pernah bilang sama aku, sebelum kamu bisa mencintai orang lain, kamu mesti lebih dulu cinta sama diri kamu sendiri. Dan aku emang cinta sama diri aku sendiri. Tapi, terkadang aku melupakan kata-kata Mami, sampai aku jatuh cinta terlalu dalam dan nggak lagi sayang sama diri aku sendiri. Iya Mam, aku membiarkan diriku sendiri terluka terlalu banyak.
Seandainya aku masih kecil, mungkin Mami bakalan menghukum aku kali ya? Kayak dulu waktu aku kecil, Mami sering banget jewer aku saat aku nggak mau minum obat.
Sayangnya aku udah besar. Meski ujung-ujungnya sama aja. Setiap kali aku terluka, selalu Mami yang jadi P3Knya. Penolong pertama buat aku. Mami hanya ada. Meluk aku. Dan Mam, efek pelukan Mami itulah obat paling ampuh buat aku.
Ah, kenapa ya hidup ini harus penuh luka Mam? Kenapa hidup ini nggak bisa penuh dengan cinta aja? Hanya cinta.
Aku terlalu cengeng ya Mam? Iya sih. Kalau aku pikir-pikir, segala ujian yang aku terima ini nggak ada apa-apanya dibanding dengan kisah perjalanan hidup Mami. Aku ini saksi hidupnya kan? Aku ngeliat dengan mata kepala aku sendiri dari kecil, gimana Mami berjuang untuk sebuah cinta. Sebuah keluarga.
Cinta kepada orang tua, cinta kepada suami, cinta kepada anak, dan cinta kepada sesama. Aku nggak tau, hati Mami sebesar apa sampai bisa memberikan cinta yang sedemikan banyaknya buat kita semua. Sampai Mami bisa setabah itu dalam menjalani hidup. Yang aku tau, pasti jawabannya adalah karna Mami punya cinta, termasuk cinta buat diri Mami sendiri dan keikhlasan. Karna Mami selalu punya cara untuk menghindar dari luka.
Ah Mam, aku ingin belajar mencintai yang seperti itu. Cinta yang selalu Mami kasih buat keluarga Mami, suami Mami, anak-anak Mami…
Karna aku sedang belajar Mam. Membangun keluarga seperti Mami dulu. Dan aku berharap, aku bisa menjalani semua ini dengan penuh cinta.
Aku nggak mau Mam, semua cinta yang Mami kasih ke aku dari kecil, aku sia-siakan dengan menyia-nyiakan kebahagiaan aku sendiri. Iya sih Mam, mana ada juga orang yang mau menderita. Makanya kita harus tetap cinta dan menghargai diri kita sendiri, gitu kan Mam?
Liat aku ya Mam. Bukan takabur atau sombong, tapi aku yakin aku pasti bisa bahagia. Karna aku tau aku punya Mami. Karena buat aku, selain Tuhan, nggak ada Mam, yang bisa ngalahin cinta Mami ke aku.
Ajari aku ya Mam….
Sampai aku bisa berkoar dengan bangganya ke Mami, “Mam, aku mencintainya. Mencintai lelaki yang aku pilih. Mencintai keluarga yang sedang aku bangun ini. Mencintai kehidupan aku. Setabah Mami, mencintai kami semua”
Dan Mami, terima kasih, karna sudah melahirkan aku ke dunia penuh cinta ini.
Dengan penuh cinta,
Anakmu yang paling berbahagia
PS: Please Mam, jangan nangis. Aku tau Mami cengeng. Tapi surat ini surat yang penuh cinta dari aku. Jadi Mami harus senyum bacanya, oke? Hihihihi….
(Diikutsertakan dalam proyek charity #DearMama dari @NulisBuku)
Wednesday, November 30, 2011
Pelangi
Dan pelangi tanpa warna adalah semu, katamu.
Padahal, kelam yang kau tinggalkan pun tak lalu mengabu dan mengabur bersama mimpi.
Hitam...
Hatiku yang menggelap bersama seonggok rindu yang kau abaikan.
Padahal, kelam yang kau tinggalkan pun tak lalu mengabu dan mengabur bersama mimpi.
Hitam...
Hatiku yang menggelap bersama seonggok rindu yang kau abaikan.
Thursday, November 17, 2011
Dari Balik Tirai Putih..
Suara-suara yang terdengar sayup-sayup membangunkanku dari tidurku. Putih, warna sekelilingku saat aku membuka mata untuk pertama kalinya. Dan warna itu yang akhir-akhir ini menemaniku. Awalnya kusangka aku sudah berada di surga, karna dimana lagi kutemukan tempat yang begitu putih dan suci? Sampai denyut-denyut kesakitan menyadarkanku. Surga tidak akan menyakitiku. Tidak seperti gulungan selang-selang di kedua tanganku.
Lagi, suara-suara yang membuatku menebak-nebak siapa pemiliknya itu menggangguku. Mengganggu ketenanganku. Mengganggu kepasrahan hatiku untuk tetap berada di balik tirai putih ini.
Suara orang yang merindukanku. Teramat sangat. Yang begitu ingin kupeluk namun tak sanggup aku lakukan.
"Untuk pemilik suara sendu itu, rindukanlah selalu aku. Dalam ada dan tiadaku.
Doaku, yang juga merindukanmu, dari balik tirai putih ini.."
Lagi, suara-suara yang membuatku menebak-nebak siapa pemiliknya itu menggangguku. Mengganggu ketenanganku. Mengganggu kepasrahan hatiku untuk tetap berada di balik tirai putih ini.
Suara orang yang merindukanku. Teramat sangat. Yang begitu ingin kupeluk namun tak sanggup aku lakukan.
"Untuk pemilik suara sendu itu, rindukanlah selalu aku. Dalam ada dan tiadaku.
Doaku, yang juga merindukanmu, dari balik tirai putih ini.."
Wednesday, November 09, 2011
Jatuhlah..
Dear hati,
Sudahkah kau buka matamu hari ini?
Lihat sekelilingmu dengan seksama
Dan memilih
Iya sayang, memilih
Karena hidup adalah pilihan
Maka buka matamu lebar-lebar
Dan bila pandanganmu terpaku di suatu tempat yang baik
Jatuhlah...
Sudahkah kau buka matamu hari ini?
Lihat sekelilingmu dengan seksama
Dan memilih
Iya sayang, memilih
Karena hidup adalah pilihan
Maka buka matamu lebar-lebar
Dan bila pandanganmu terpaku di suatu tempat yang baik
Jatuhlah...
Subscribe to:
Posts (Atom)