Tuesday, May 28, 2013

New..


Jakarta, 2006

Alma


“Gue mesti gimana dong Bim? 6 bulan lagi gue mau nikah. Dan Agung tiba-tiba datang. bilang kalau dia nyesel. Gila kali ya???” aku berteriak histeris. Bima, sahabatku sejak SMA menepuk-nepuk pelan bahuku.

“Sabar Al.. Sabar. Jangan teriak-teriak ah. Lo nggak malu apa diliatin orang? Rileks Al… Take a deep breath..” Aku cemberut menatap Bima.

“Gimana gue bisa rileks?? Lo lupa apa cerita gue ama Agung?” aku masih histeris tapi berusaha menahan suaraku agar tidak berteriak.

“Ya nggak mungkinlah gue lupa, Al. Selama 9 taon gue kenal sama elo, nama cowok yang keluar dari mulut lo kan cuma Agung. Hampir setiap hari gue musti pasang kuping gue Cuma buat dengerin lo cerita, si Agung beginilah, si Agung begitulah.” Bima mengangkat bahu malas. Cuek. Tampak tidak terlalu perduli dengan masalahku kali ini. Aku makin kesel. Aku tinju perut buncit Bima.

“Ouch! Apaan sih Al? Sakit tau??! Kasar..” gerutu Bima sambil mengelus-ngelus perutnya. Pemandangan yang biasanya pasti membuatku tertawa ngakak, kalau saja aku nggak pusing dengan masalahku sendiri. Bimantara Satya Hutomo, si Teddy Bear, dengan tinggi 185 cm dan berat 135 kg. Putih, berhidung mancung, berambut ikal rapi, dan perut yang menonjol. Sahabat kesayanganku selama 9 tahun ini, sedang melakukan atraksi kebanggaannya. Beruang putih sirkus yang misuh-misuh sambil memegangi perutnya. Aku berusaha menyembunyikan tawa geliku.

“Lo kok cuek banget sih? Gue lagi stress kayak gini juga. Sahabat macam apa lo??” aku mengeluarkan jurus mautku. Pasang tampang sedih dan berdiri dari kursiku.

“Gue pulang aja deh..” kataku sambil berlagak jalan kearah pintu kafe. Dan benar saja, tidak sampai 2 detik kemudian Bima berteriak memanggilku,

“Alma! Yaelaaah..pake ngambek sih. Dasar calon manten sensi lo.” Cela Bima, meski tak urung dia berdiri dan menarikku duduk kembali sambil mengacak sayang rambutku.

“Udah, duduk. Nggak usah pake manyun. Gih cerita. I’m all yours…” kata Bima lembut. Aku tersenyum dalam hati. Bima emang orang yang paling ngertiin aku deh. Hihihihi…



                                                                 *** 



Bima



Almaira Nareswari Sumitro. Sahabat terdekatku sejak aku kelas 1 SMA. Satu-satunya perempuan yang deket denganku tanpa ada embel-embel cinta-cintaan. Gadis mungil dengan tinggi 150cm yang selalu menyebut dirinya imut, dengan rambut hitam sebahu, kulit putih dengan rona kemerahan di pipinya akibat udara yang panas menyengat, barisan gigi yang putih rapi akibat behel yang baru dilepas 2 bulan lalu, dan bibir mungil merah jambu yang anehnya bisa tahan ngoceh 3 jam nonstop. Gadis yang 6 bulan lagi akan melepas masa lajangnya dengan seseorang yang sudah dipacarinya selama 4 tahun terakhir ini, yang notabene adalah temanku juga. Dan gadis yang sama itu, saat ini sedang duduk dihadapanku di Kafe Starlight ini, sambil memasang aksi ngambeknya, karana tadi sempet aku cuekin saat dia berkeluh kesah.

“Apa Al? Katanya lo mau cerita. Malah diem..”

Alma menatapku sendu. Kemudian menarik napas dan menghembuskannya pelan.

“Menurut lo, cinta gue itu, lebih gede ke siapa? Agung atau Tama?” pertanyaan Alma ini membuatku terpaku. Lalu mukaku sengaja aku bikin sekaget mungkin.

“Haaah?? Again Al?? Pertanyaan itu lagi? Lo udah kehabisan stok pertanyaan apa?”  sindirku. Alma hanya menggeleng tak sabar. Tidak perduli akan sindiranku. Dia malah memajukan badannya hingga tangannya bisa menyentuh tanganku. Meremas, lebih tepatnya.

“Bim, gue serius nih. Gue 6 bulan lagi nikah sama Tama, dan cuma karna bbm dari Agung yang bilang, ‘Al, kamu serius mau nikah? Kamu yakin dia pasangan yang tepat buat kamu? Bukan orang lain? Ng.. aku, misalnya?’ gue jadi menggalau berat kayak gini. Padahal lo kan tau banget Bim, kalau gue dengan susah payah akhirnya bisa ngerelain Agung. Karna gue tau kalau gue dan dia tuh udah nggak punya masa depan bersama. Makanya gue mutusin buat nerima Tama. Lo tau itu kan, Bim?” remasan tangan Alma semakin kencang. Aku heran. Bagaimana badan sekecil itu punya tenaga sebesar ini. Karna aku aja yang berbadan jauh lebih besar dari Alma dan yaaaah, tertutup lemak tebal ini, masih sering meringis kesakitan menghadapi setiap pukulan, cubitan maupun remasan Alma. Bagaimana dengan Tama? Atau Agung? Yang jelas-jelas badannya lebih kurus dari aku. Dan mereka masih saja berebut cintanya Alma?? Ckckckck… aku heran. Atau jangan-jangan mereka masokist?

Sepertinya senyumanku atas pikiranku barusan terlihat oleh Alma. Dengan gemas dicubitnya pipi bulatku ini. Membuatku kembali ke alam nyata.

“Buset deh Al. Lo tuh hobi amat sih nyiksa gue?” gerutuku.

“Salah lo sendiri! Gue lagi ngomong serius, lo malah cengar cengir. Mikirin apa sih lo??? Ngeliatin apaan?” Alma mengira aku sedang menatap sesuatu di belakangnya. Buru-buru ditolehkan kepalanya ke belakang. Dan ternyata, tepat setelah 3 kursi dan meja kosong di belakangnya, duduk seorang perempuan dengan paras paling cantik yang pernah aku lihat. Dan sialnya lagi, Alma benar-benar mengira aku sedang memperhatikan perempuan itu.

“Iiiiih, centil banget deh lo Bim! Gue lagi sedih, lagi curhat, elo malah ngeliatin cewek laen. Mentang-mentang cewek itu sendirian…” Alma mulai manyun lagi. Aaarrgh..aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Gemas.

“Bukaaan Al. Gue ngak ngeliat cewek itu. Udah ah. Buruan cerita!” Alma masih menatapku curiga.

“Beneran? Padahal cantik loh…” Alma malah ngegodain aku. Langsung saja aku jitak pelan kepalanya.

“Dih, ngambek. Hehe.. Hmmm… Yaudah. Jadi, menurut lo, Agung atau Tama yang lebih gue cintai?”

“Phhhewww… Lo itu aneh banget ya Al? pertanyaan gitu kok ditujuin ke gue? Mestinya ke hati elo sendiri dong!”

“Yeee… kalo gue tau jawabannya mana mungkin gue ngerecokin elo.”

“Lo masih ngarepin Agung?” tanyaku sambil meneliti wajah Alma.

Alma menggeleng pelan. Lalu mengangguk. Lalu menggeleng lagi.

“Aaaaaagggghhhhh!!! Gak tau ah! Pusing gue! Kenapa sih udah mau nikah ada aja kejadian kayak gini?? Kenapa si Agung nggak nanya kayak gitu sepuluh taon yang lalu?? Atau nggak, at least 1 taon lalu deh.!” Alma membenamkan kepalanya di atas meja dan berteriak histeris.

“Ssssttt!! Al, orang pada nengok semua tuh!” panik, aku lalu menoleh ke orang-orang sekelilingku yang sedang memperhatikan kami dan meminta maaf melalui gerakan tangan. Dan gadis itu, gadis cantik yang duduk sendirian itu, juga sedang memperhatikan kami. Aku hanya bisa tersenyum lemah kepadanya, yang langsung dibalas dengan senum pengertian. Atau setidaknya begitu menurutku.

“Al, hp lo bunyi tuh,” sambil mengambil hp Alma yang berbunyi di atas meja. Keningku berkerut melihat nama yang tertera disana. Agung? Dasar tukang bikin masalah nih.

Alma tetap diam. Tidak memberikan reaksi.

“Al? Agung nelpon nih…” kataku sambil mengguncang bahunya perlahan. Sesaat kurasakan dia menegang.

“Gue nggak mau nerima telpon dari siapapun, Bim. Lo aja yang angkat. Terserah alasannya apa. Abis itu matiin aja hp gue,” jawab Alma lemah tanpa mengangkat kepalanya dari meja. Aku menghela napas pelan.

“Ya? Gue Bima, Gung. Alma lagi ada presentasi. Hpnya ketinggalan di mobil gue…. Mungkin ntar malem gue baru ketemu dia…. Oke. Ntar gue sampein… iya.. sip. Bye,” kataku sambil menutup telpon dari Agung.

Aku menghembuskan napas lagi. Kali ini lebih keras sambil menyenderkan badan ke sandaran kursi. Aku lihat Alma yang masih membenamkan kepalanya di atas meja. Sesekali bahunya terlihat agak berguncang. Nangis lagi, deh.

Agung-Almaira-Tama. Cinta segitiga? Halaaaah… nyusahin aja deh. Bikin pusing kepala. Mendingan aku makan aja deh. Pikirku sambil langsung memanggil pelayan, dan memesan waffle coklat favoritku dan Alma. Tanpa aku sadari ada sepasang mata bening yang sedang memperhatikan aku.
                                                                   ***

(to be continued...)
*This is a prologue from my upcoming novel. Belum ada judul sih. Yaaah.. doain aja yah biar kali ini malesnya ga kelewatan buat nyelesain proyek ini... ^^


Tuesday, February 19, 2013

Because your happiness is my happiness.
It's always been like that.
Always have and always will.
Happy birthday...

Tuesday, February 05, 2013

My Sweet Escaping..

Cos' people really need it at least once in a life time.... *sesat* hihihihihihi...















-Location: IndoChine Resort and Villa, Kalim Beach Phuket-
**Thanks God my sweet escaping didn't cost me much money. It's a 12 million Rupiahs worth leaving place for a night and it's free!! It really is sweet.. Yeaaay..... :)

Saturday, February 02, 2013

Once Again, February..

Saat mimpi kembali meninggalkan jejak basah di atas bantal tidurku,
mungkin itu kepingan kenangan,
yang enggan menjadi sesuatu yang terlupakan..

Maka sekali lagi aku menyapamu, masa lalu..
Tetaplah di tempatmu,
Di sudut belakang ingatanku,

Sampai saatnya nanti..
Ketika denyut ini tak lagi berdarah
Aku yang akan menjemputmu..

Lalu kuletakkan di ruang kosong hatiku
Tempat di mana cerita itu pernah aku tuliskan..

Saturday, January 05, 2013

Aku Minta Lagi, Tuhan..


-->
Tahunbaru sudah berjalan 5 hari, dan aku belum sama sekali menuliskan apapun. Excuse-nya sih karena pada saat malampergantian tahun, aku sedang berada di apartemen yang kebetulan miskin sinyal.Padahal sih, jujur, di kepalaku saat itu sedang kosong. Sama sekali nggak adasecuil ide pun di sana.

Jadilah,baru kali ini aku menulis. Mungkin ini bukan tulisan berarti, ini hanya sekedarcurahan hati. Permohonan dan doa, lebih tepatnya.

Untukseorang manusia, yang biasa-biasa saja, bahkan dengan ketaatan yang mungkinmalah di bawah standar, memohon untuk kesekian kalinya, bisa dibilang nggaktahu diri. But that's what makes us human,rite?

JadiTuhan, kalau boleh aku meminta lagi, kali ini aku mau kekuatan.
Kekuatanuntuk bertahan.
Dan,
Kekuatanuntuk berjuang.

Karena,Tuhan, jalan untuk menuju semua mimpiku itu tidak mudah. Banyak sekali kerikilyang menghalangi langkahku. Dan aku butuh kekuatan itu Tuhan, entah untukmenyingkirkan kerikil itu, atau untuk berjalan dan melompatinya.

Karena,Tuhan, mimpiku itu mulia. Mimpi yang aku impikan demi kebahagiaan orang banyak,bukan hanya aku dan diriku. Kupastikan itu, Tuhan.

Dan terakhirTuhan, kumohon iringi perjuanganku kali ini.

2013,FIGHTING!!!

Wednesday, November 14, 2012

Ini Cin(T)a Versi Kita

 

"Nih tissue..." Arga menyodorkan sekotak tissue di depan mukaku. Aku mengambil dua lembar kemudian segera mengeringkan airmata di pipiku.
"Cengeng ih.. nonton gitu aja nangis.." Arga berkata lagi sambil berdiri dan berjalan ke dapur. Tak sampai semenit, dia sudah duduk kembali di sampingku dan menawarkanku segelas air. Aku mengambil gelas itu dari tangannya tanpa banyak komentar.
"Udah tenang?" tanyanya lagi. Aku mengangguk. Arga lalu mendekat, meraih kepalaku dan mengusapnya lembut.
"Sedih ceritanya Ga...." Arga hanya diam.
"Kayak kita..." lanjutku, namun lagi-lagi tak ada komentar dari Arga.
"Ga...." panggilku pelan.
"Hm?"
"Kok kamu diem aja sih?" aku menengok ke samping. Sedikit terkejut dan memundurkan kepalaku karena muka Arga berada terlalu dekat dengan mukaku. Napasnya perlahan berhembus mengenai pipiku.
"No comment." Arga lalu menghentikan usapan di kepalaku dan berdiri.
"Ayo." tangan Arga sudah terulur di depanku, menunggu kusambut.
"Kemana?" kali ini ada senyuman di wajah Arga. Matanya yang sipit semakin menghilang oleh kerutan di sekitar pipinya saat dia tersenyum.
"Bachelorette party kamu-laaaah... Masa sih perayaan hari-hari terakhir kamu single begini doang??" Aku menggeleng.
"Aku mau di rumah aja Ga. Emangnya aku nggak boleh, ngerayain hari terakhir masa lajang aku sama kamu?" Arga menghela napas keras-keras. Terdiam sesaat lalu kemudian kembali menghempaskan tubuhnya di sofa sampingku.
"Your wish is my command, my lady..." Aku tersenyum mendengar caranya memanggilku.
"Ngomong-ngomong, kamu tega juga ya..." Arga tiba-tiba berkata, setelah beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti kami.
"Kenapa?"
"Nikah pas Natalan. Emang ada gitu yang mau dateng?" Aku tertawa kecil.
"Emangnya nggak boleh nikah pas Natalan? Kan aku nggak ngerayain Natal. Lagian aku kan nggak bikin pesta gede. Jadi ya biar aja tamunya dikit.. "
"Iya sih.. Tapi kan jadi aku yang ribet bagi waktunya. Untung aja jam akad nikah kamu pas aku kelar kebaktian."
"Sengaja kok. Maksud aku, biar kamu bisa sekalian ngedoain aku dulu pas kebaktian. Doain biar pernikahan aku ini diberkati, awet, langgeng dan selalu penuh kebahagiaan. Lagian buat kamu, hari Natal itu berkah kan? Berarti bagus dong kalo aku nikah pas hari itu. Berkah.."
Arga mengangguk-ngangguk.
"Kalau gitu, ntar aku nikah pas hari Lebaran aja kali ya? Biar suci jiwa raga aku... Hahahaha..." aku ikut tertawa. Tertawa dan tertawa sampai tak terasa airmata mengalir lagi di pipiku.
"Hei.. jangan nangis dong. Masa calon manten nangis mulu sih? Tadi nonton nangis. Sekarang nangis lagi... Ssshhh...." kali ini tangan Arga sendiri yang menghapus airmataku. Tangannya sedikit bergetar dan terasa dingin. Pelan, kuraih tangannya yang sedang mengembara di pipiku.
"Ga... nanti, siapapun diantara kita yang mati duluan, harus minta sama Tuhan, biar kita, kalau dilahirkan kembali berada dalam satu keyakinan yaaa..." Arga tertawa mendengar kata-kataku.
"Reinkarnasi? Itu kan kepercayaan lain lagi. Emang kamu  percaya?"
"Selama itu bisa nyatuin kita, rasanya aku pengen banget bisa percaya, Ga. Kan kata film tadi, God is an architect. Kalau iya, pasti Tuhan juga bakalan bisa nyiptain ruang buat kita berdua. Mungkin sekarang masih belum jadi, masih rancangan. Makanya, kita ajuin dulu aja proposalnya. Biar di dalam rancangan berikutnya, Tuhan nggak kelupaan bikinin ruang yang sama buat kita. Ruang yang kuncinya hanya kita yang punya. Biar orang lain nggak bisa masuk dan seenaknya mengganggu. Kayak sekarang ini, ruangan kita masing-masing terkunci satu sama lain. Bukan orang lain yang nggak bisa masuk, tapi kita sendiri yang nggak bisa memasukinya. Aku capek hidup di kotak-kotakin begini. Semua hal bisa jadi pemisah. Agama, suku, bangsa. Padahal, katanya semua manusia sama. Tapi, kalau urusan cinta, banyak banget penghalangnya... Kalau gitu buat apa ada cinta? Buat pemersatu? Yang ada malah cinta itu, yang jadi halangan orang untuk bersatu... Coba kam....." tangan Arga tiba-tiba membekap mulutku.
"Sssst.. Udah ya. Ini prewedding jitter kamu kok gini banget sih? Jangan nangis lagi, oke? Janji ya, hari ini hari terakhir kamu nangis di depan aku. Karena besok, yang bakalan ngusap air mata kamu, bukan aku lagi. Aku udah nggak punya hak untuk itu. Dan lagi, jangan sampai deh aku liat kamu nangis. Bisa aku tonjok nanti suami kamu itu. Masa udah berhasil menikahi kamu, tapi masih bikin kamu nangis..." Aku tersenyum mendengar kalimat Arga.
"Terus, kalau kamu yang nangis gimana?" tantangku. Arga tergelak.
"Diih.. emang aku cewek? Eh salah. Emangnya aku itu kamu? Kerjaannya nangis mulu."
"Iiih.. aku nangis mulu kan sejak pacaran sama kamu. Tau gitu, kita dulu nggak usah pacaran aja ya.. Tetep sahabatan...."
"Yaaaa... siapa suruh kamu maksa-maksa jadi pacar aku?"
"Ehh.. enak aja. Kelakuan kamu tuh udah kayak si Cina di film tadi tau. Ngerayu-ngerayu, pake bilang simbol kerukunan umat beragama segalalaaah. Huuuh... Kemakan rayuan kamu nih aku."
"Hahahaha... Ya gimana dong? Prinsip aku, kita harus berusaha semaksimal mungkin sebelum mengakui bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nggak mungkin. Kita, misalnya..." aku langsung terdiam.
"Hayoo... mau nangis lagi ya??" Aku menggeleng.
"Enggak kok. Emangnya kamu, cengeng...."
"Diih kapan aku nangis?"
"Waktu kita putus... Kamu nangis juga kan?? Bilangnya aku yang cengeng, padahal kamu juga ikutan nangis. Ntar jangan-jangan besok pas aku akad nikah, kamu nangis, lagi..." godaku.
"Hahahaha... enggaklaaaaah. Aku nangis cuma sekali itu aja kok. Karena aku lagi agak kecewa sama keadaan, sama keluarga, sama Tuhan.... Tapi ya, sekarang beda. Gini nih kalau orang udah bisa ikhlas, ya bisa tetep senyum kayak aku gini...." Arga menepuk dadanya, bangga.
"Tsk... iya deeeh. Terseraaaaah. Hahahaaha... Udah ah. Yuk!!" Aku berdiri dan kali ini gantian aku yang mengulurkan tanganku ke Arga yang mengerutkan keningnya.
"Kemana?"
"Party-laaaaah... si Lala udah nyiapin bachelorette party buat aku. Bentar lagi mulai. Masa aku sebagai bintang utama-nya telat?"
"Tadi katanya nggak mau... Dasar. Yaudah, kalo gitu aku nge-drop kamu aja ya. Males banget ikutan acara cewek-cewek."
"Yeeee.. mana bisa gitu. Kamu itu kan maid of honor aku. Ya wajib ikut dong..." kataku nggak sabar sambil menggoyangkan tangan di depan mukanya, menunggu sambutannya.
"Haaaaaaaaah..... " Arga menghela napas keras-keras. Dan dengan enggan menyambut uluran tanganku. Kugenggam tangannya erat. Arga pun membalasnya. Sesaat kami hanya terdiam dan saling pandang. Lalu sambil tersenyum, kami berdua berjalan perlahan ke ruang depan dan membuka pintu. Aku melirik sekilas apartemen Arga. Tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini. Tertawa, menangis, terluka, bersuka...  Arga lalu mematikan lampu dan mendorongku keluar. Di ruang tengah, masih berserakan tissue dan kotak dvd yang tadi kami tonton. Cin(T)a. Aku lupa membereskannya. Ah, biarlah. Toh nanti, aku yakin Arga pasti bakalan menonton ulang dvd itu.....


***

  -->

--Terinspirasi dari film "cin(T)a" dan kisah nyata seorang sahabat....
---Gambar diambil via googling :)))

Thursday, November 01, 2012

Sesal


Ada masa yang terburai
Saat jam dinding berputar perlahan
Mendetikkan detak-detak kerinduan

Lalu pada pandangan yang mengabur
Ketika lupa berhasil menjadi penghibur luka
Mata hanya ilusi yang memperlihatkan duka

Sepi dan sunyi yang didendangkan oleh masa lalu
Bayangan yang menari-nari diantara pusaran ingatan
Langkah kaki yang berhenti tak beranjak seolah terikat oleh kenangan
Saat itu, jarak antara hidup dan mati terkubur dalam angan suram yang lalu kusebut silam

Karena, di antara semua yang ada, kau kini adalah tiada
dan sesal, adalah tempat rintikan air mata ini berasal...
 

Saturday, September 22, 2012

Udah Gede Loh, Aku....

 
“Teddy…… Mas Raka jahaaat… pipiku dicubit lagi. Hiks.. Sakit Teddy…”
*
“Teddy…. Hari ini nyebelin di sekolah. Lia curang. Masa ngerjain pe-er dibantuin kakaknya sih? Jadinya dia dapet 100. Aku salah 2. Aku kalah. Tapi Lia curang. Sebel!!”
*
“Teddy.. Ayah dipindahin kerjanya. Aku harus pindah sekolah. Pindah kota juga. Temen-temen aku gimana? Ntar aku bakalan kesepian nggak ya di sana? Tempat barunya kayak gimana ya? Uuuugh.. gak asik banget deh papa. Udah mau lulus padahal. Ga bisa gitu nunggu setaun?? Huuuh…”
*
“Teddy…Aku udah jadi cewek tulen!! Hihhihihihi… tadi siang pas di sekolah kan perutku sakit banget. Eh taunya pas pulang aku berdarah. Kata mama sekarang aku udah gede, tandanya. Harus bisa mandiri. Ga boleh cengeng sama manja. Eh tapi berarti aku juga udah boleh pacaran kan ya Teddy?? Hihihihihi….”
*
“Teddy… di kelasku ada anak baru. Tumben banget deh. Padahal kan tinggal satu semester lagi aku lulus SMP. Masa pindahnya nanggung gini ya?? Eh tapi orangnya lucu. Tinggi, trus putih. Botak gitu. Oya, kalo senyum ada lesung pipinya. Hihihihihi…”
*
“Teddy…. Apa semua cowok kayak gitu ya? Kayak Arga maksud aku. Sukanya sama cewek yang cantik, langsing, putih… Trus kalo gitu, gimana nasib cewek kayak aku? Aku pikir Arga beda. Temenan lama sama dia, dari akhir SMP, ternyata nggak bikin aku ngerti tentang dia ya? Rasa ini harus aku simpen sendiri aja gitu Teddy? Aku nggak mau pertemanan aku sama dia rusak. Tapi aku juga nggak mau dengerin dia nyeritain gebetan-gebetannya itu. Teddy, aku harus gimana??”
*
“Teddy… Ayah nggak adil banget sih??!!! Masa mas Raka boleh homestay di luar negeri, aku enggak?? Alasannya karena aku cewe! Apaan sih ayah?! Hari gini masih maenan gender ajah! Aku nggak terima. Pokoknya aku mau protes!”
*
“Teddy!!! Sialan banget deh si Shilla. Dasar backstabber! Nyesel aku nggak dengerin kata Diana. Emang ya, di saat kita sedih, teman yang tinggal itulah teman sejati. Arrrggghhh!!!! Mana sih yang katanya orang saat-saat SMA itu saat yang paling indah?? Bohong semua!!”
*
“Teddy… Arga nyium aku!!! 3 tahun Teddy…. Aku mendam perasaan aku 3 tahun. Arga akhirnya sadar. Dan sekarang aku resmi punya pacar!!! Wuaaaaaah…. Aku seneng Teddy. Seneeeeeeng banget. Eh, ntar aku kenalin kamu sama Arga yaaa… hihihihihihi….”
*
“Teddy… si Ayah masa nggak setuju aku pacaran? Padahal kan aku tau banget tuh kalo Ayah suka sama Arga, waktu statusnya masih sahabat aku. Ah, mau pacaran aja susah, apalagi ntar kalo ngelepas aku nikah ya?? Tapi sih kata Bunda ga usah terlalu dipusingin. Ayah cuma cemburu. Hihhihihihi…”
*
“Teddy…. Aku lulus!!! Hihihihihi…. Tahun lagi kamu nggak boleh nyebut nama aku doing loh ya.. harus ditambahin embel-embel ‘bu dok’. Okey Teddy?? Hihihihihi.. si Arga juga bakalan jadi tukang insinyur… hiihihi.. aduuh.. aku seneng Teddy…”

***

“Kendra… barang-barang kamu udah dipacking?” Kendra Amala Sudibyo menoleh saat mendengar Bunda masuk ke dalam kamarnya. Sambil tersenyum Kendra bangun dari posisi tidurnya.
“Hampir Bun…” diliriknya lagi kamar yang selama ini ia tempati. Di pojok ruangan sudah ada 3 box berisi sebagian barang yang akan dibawanya.
“Nggak kerasa ya, 3 hari lagi kamu akan menikah nak. Pindah ke Jakarta, ngikutin suami.. Hhhhh.. rumah bakalan terasa kosong pasti.” Bunda menghela napas pelan. Kendra langsung memeluk erat bundanya.
“Bunda jangan gitu dong. Jakarta-Bandung kan nggak jauh. Jangan sedih ya Bun. Ntar Kendra pasti ikutan nangis..”
Bunda hanya tersenyum sambil mengelus rambut putri bungsunya.
“Kamu nggak boleh manja lagi loh, Ndra. Pas di hari pernikahanmu nanti, usia kamu sudah 25 tahun. Sudah dewasa. Serempat abad. Kamu tau, banyak yang bilang, orang, terutama wanita. mengalami the quarter life crisis. Yaah.. makin dewasa kan makin banyak cobaannya. Makanya kamu harus kuat. Banyak berdoa. Bunda yakin Arga bisa menjadi pembimbing yang baik buat kamu. Masalah itu pasti ada. Yang penting, kalian berdua harus pandai-pandai menjaga komunikasi. Terbuka satu sama lain. Apa-apa harus diomongin. Karena dalam hubungan yang paling penting itu komunikasi. Ngerti toh?” Bunda menasehati Kendra yang mengangguk dan kini sudah merebahkan kepalanya di atas pangkuan Bunda.
“Eh, Ndra. Si Teddy nggak kamu bawa?” tiba-tiba Bunda bertanya setelah keheningan yang cukup lama. Kendra mengangkat kepalanya, bangkit dari posisi tidurnya.
“Teddy?” alis Kendra terangkat satu. Bunda mengangguk.
“Iya, Teddy. Itu…” Bunda menunjuk rak boneka di depan tempat tidur Kendra. Teddy, boneka mungil Kendra yang usianya hampir sama dengan pemiliknya terduduk rapi diantara banyaknya boneka Kendra yang lain. Hampir tersembunyi dibelakang boneka singa yang lebih besar.
“Ya ampun Teddy!!” Kendra langsung melonjak dari tempat tidur dan mengambil Teddy ke dalam pelukannya.
“Hampir aja aku lupa Bun…”
“Jadi inget, dulu kan kamu selalu bawa si Teddy kemana-mana. Apa-apa pasti kamu seritain semua ke Teddy. Bunda sampe ngiri. Hampir aja Bunda masangin alat perekam di Teddy. Habis kamu nggak pernah mau cerita ke Bunda sih. Malah ke Teddy. Padahal kan Teddy nggak bisa ngomong. Nggak bisa ngasih pendapat.” Bunda sedikit merajuk. Kendra tertawa kecil.
“Hihihihi.. iya ya Bun. Dulu aku selalu cerita apa aja ke Teddy. Keterusan sampe gede malah. Sampe saat aku pacaran sama Arga. Eh tau nggak Bun, Arga kan juga sempet ngambek loh karena Teddy. Dia maunya aku tuh kalo cerita ke dia, bukan ke Teddy. Hihihi.. cemburu kok sama boneka. Tapi ya, sejak itu aku jadi ngelantarin si Teddy. Kasian Teddy….” Kendra mengelus-ngelus boneka kesayangannya itu.
“Makanyaaa… boneka disayang ya boleh. Tapi jangan sampe kamu melupakan orang sekitarmu dong Ndra. Apalagi sekarang udah ada Arga. Dia itu pendamping kamu. Panutan kamu. Pembimbing kamu. Masa depan kamu. Jadi ya jangan jadiin dia pajangan aja. Masa kalo ada apa-apa sama kamu dia harus nanya Teddy dulu? Mending kalo Teddy bisa jawab…” nasehat Bunda panjang lebar. Kendra tertawa.
“Hahahahaa… Iyaaaa Bundaaaa. Beres. Jadi, hmm.. apa kata Bunda tadi? Quarter life crisis? Oke. Di seperempat abadku, aku nikah. Crisisnya? Hm… semoga stress mau nikah ini aja deh ya Bun. Sama ngadepin Ayah yang ga rela anak bungsunya yang cantik ini diambil orang. Jadi hidupku bisa tenang sampe ketemu the half life crisis ntar. Hahahaha…”


***


Ps: sumbangan cerita buat menuhin buku-nya Septianessty alias @netkirei :))

Monday, August 27, 2012

Sayap Sang Pencinta

Ajari aku terbang, melawan kehendak gravitasi.
Agar kelak, jatuh tak lagi sesakit luka, seperti yang pernah kau torehkan pada cinta..

Published with Blogger-droid v2.0.6

Wednesday, August 08, 2012

Kosong


Aku kosong yang tak berisi
Sebab itu, rindu masuk dan berdiam tanpa permisi

Aku kosong yang tanpa inti
Sebab itu, rindu enggan beranjak tak mau pergi

Aku kosong yang terbiasa sendiri
Sebab itu, rindu hanya ada dan terbiar sepi

Tetapi aku hanya kosong di sudut dada
Tanpa getar menggelegar,
yang tergantung hanyalah jantung tanpa debar.

Di ujung waktu,
Rindu sekali lagi jatuh di ruang hampa tanpa temu
Entah sampai kapan.

Monday, August 06, 2012

Detak Detik


Tik… Tok… Tik…
Begitu bunyi jam dinding di kamarku
Tergantung di tengah lengangnya ruang
Menghitung waktu yang berjalan pelan pada sebuah pertemuan

Dag… Dig… Dug…
Begitu bunyi debar jantungku
Berdiam di tengah tubuh yang terasa kosong
Berdenyut mengalirkan sebuah rasa dari kepala sampai ujung kaki

Dan ketika sebuah penantian berdamai dengan waktu
Debar yang bergetar, tak lagi berputar mencari jalan keluar

Sebab, mencintaimu berarti memasrahkan hidup
Pada detik yang bergerak lambat
Seolah bertarung melawan detak jantungku sendiri

Friday, August 03, 2012

Hidup Sebenar-benarnya..

Someone once said to me:
"Karena hidup sebenar-benarnya hidup itu, adalah ketika kita berhasil menjalani sebaik mungkin kehidupan ini tanpa menyisakan sebuah penyesalan."
Maka, lilin yang menyala ini menjadi saksi sebuah pinta untuk kebesaran dan keihklasan hati dalam menjalani hidup.
Happy birthday 27 years old me... Be happy! x))

Wednesday, June 27, 2012

Mimpi yang Hilang


Engkaulah mimpi yang hilang menjelang pagi
Debar itu adalah angan
Detak itu adalah harapan

Lalu ada aku dan sebuah penantian
Di bangku taman yang menua bersama gugurnya dedaunan,
ke tanah basah tempat akhir segala cerita

Tersimpan sebuah tanya dalam hati
Kemanakah rindu ini akan berpulang?

Sebab riuh tak lagi terasa bingar
Sebab kehilangan tak lagi terasa hampa

Dan hidup ataupun mati,
bagiku hanyalah sisa misteri yang mendenyutkan nadi ini berkali-kali

**********

“Mana jari kelingking kamu? Buruan.”
“Iiiih… buat apaan? Nyari jari kok kelingking sih? Jari manis dong..”
“Hahahahaha… Udah mana jari kamu! Nah! Gini. Ini namanya janji……………”
Lelaki bersuara merdu itu melingkarkan jari kelingkingnya ke jariku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Siip.. sekarang cium aku.”
“What?!! Iiiiih… kamu gila ya? Ntar diliat orang.”
“Nggak ada orang. Ayo buruan dong.”
Pipi berlesung pipit kesukaanku itu sudah berada di depan mataku yang kututup sesaat sebelum aku bergerak maju. Perlahan bibirku menyentuhnya lembut. Lagi-lagi lelaki itu tertawa merdu.
“Sekarang giliran aku..” belum sempat aku membuka mata, sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh pipiku.
Hanya sekejap. Sebelum akhirnya cahaya mentari yang menyelinap segaris lewat jendela  membangunkanku...












(Ps: gambar diambil via googling :p)

Friday, April 20, 2012

Cepek Dulu, Dooooong....

Pak Ogah. 
Begitu anak-anak sekampung memanggilnya. Aku sendiri sebagai pendatang baru di kampung ini sering mengira-ngira arti nama beliau. Seseorang bapak-bapak, belum terlalu tua menurutku, meski kepalanya botak, dan sering ogah-ogahan melakukan sesuatu. Mungkin itu sebabnya beliau dipanggil Pak Ogah. Karena setahuku, beliau hampir tidak pernah mau melakukan sesuatu dengan gratis.

"Cepek dulu, dong..." pernah suatu hari pak Ogah berkata begitu padaku, di saat aku meminta tolong padanya untuk mengambilkan belanjaanku yang tercecer di dekat kakinya.

"Pak Ogah emang begitu, Mey. Mendingan kamu nggak usah minta tolong sama dia deh," nasihat Unyil, salah satu temanku di kampung, diikuti dengan anggukan Usro, temanku yang lain.

"Iya siiih... Pak Raden pernah bilang. Kalau yang namanya menolong, itu harus ikhlas. Nggak boleh pake pamrih. Memangnya Pak Ogah nggak pernah diomelin sama Pak Raden?" tanyaku sambil membayangkan, betapa serunya melihat Pak Ogah yang botak dan terkadang menyebalkan itu, tertunduk lesu sambil mendengarkan omelan dan ceramah dari Pak Raden, salah satu orang tua yang disegani di kampung. Dengan kumisnya lebatnya yang pasti bergerak-gerak lucu mengikuti gerakan bibirnya saat berbicara, pasti akan kocak sekali kejadian itu.

"Udah sering, Mey. Percumaaa...." jawab Usro. Aku pun lalu hanya mengangguk-angguk. Namun aku yakin, suatu saat Pak Ogah bisa kena batunya kalau beliau tetap seperti itu.

Dan benar saja, keesokan hari setelah pertemuanku dengan Unyil dan Usro, ada kejadian yang membuatku yakin. Bahwa semua tindakan kita, baik atau buruk akan mendapatkan balasan. Langsung atau tidak.

Atap rumah Pak Ogah ambruk. Entah apa sebabnya. Untung saja saat itu beliau tidak ada di rumah. Dan saat beliau pulang, hampir saja beliau menangis histeris. 
Warga sekampung hanya bisa terdiam melihatnya.

Dengan muka memelas, Pak Ogah meminta bantuan warga untuk membetulkan rumahnya. Namun tak ada satupun orang yang bergerak. Pak Ogah terus meminta tolong sambil memohon.

"Cepek dulu dong...." entah siapa yang melontarkan perkataan itu. Yang jelas, Pak Ogah seketika terdiam. Beberapa warga mulai kasak kusuk di belakang, sambil sesekali menyukuri kemalangan Pak Ogah.

Tiba-tiba, Pak Raden datang. Dengan tegas beliau mendekati Pak Ogah dan berbicara padanya, "Jadi bagaimana Ogah? Kamu sudah tau bagaimana rasanya sendirian di dunia ini? Di saat tak ada seorangpun yang mau menolongmu seperti sekarang ini? Ini semua karena salahmu sendiri. Kalau selama ini kamu ikhlas menolong, tanpa embel-embel kalimat 'cepek dulu dong' kebanggaanmu itu, saya yakin, pasti mereka semua juga akan mau menolongmu. Betul kan semua?" Warga mengangguk patuh. 

Pak Ogah terdiam. Lalu dengan suara pelan, beliau berkata, "Iya, sekarang saya sadar. Maafkan saya ya semua. Saya janji, mulai sekarang saya akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Menolong sesama dengan ikhlas. Mau kan maafin saya?"

Warga sekampung bersorak. 
"Nah gitu dong!"
"Iya. Dimaafin."
"Ayo bapak-bapak, karena Pak Ogah sudah meminta maaf, bagaimana kalau kita bantu saja untuk membetulkan rumahnya? Kasihan Pak Ogah..."
"Iya. Ayo semua. Bantu Pak Ogah."

Dan aku, dari belakang menyaksikan semua kejadian itu sambil tersenyum yakin. Aku pasti akan betah di kampung ini.



- Proyek #ILUPakRaden -