Kusebut kamu mimpi, ketika nyatamu tak mampu kupeluk
Dan saat mata ini terpejam, senyum manis terlekung di bibirku
Lalu kamu bertanya
Siapa yang hadir di mimpiku tadi malam
Melewati ribuan kilometer, tempat di mana nadi ini berdenyut
Dan aku hanya bisa tersenyum
Meski tahu, matamu tak dapat menyaksikan lesung pipit di kedua pipiku
Maka kutulis sajak untukmu
Iya sayang, agar kamu tak pernah kehilanganku
Sajak ini, sajakku
Untukmu ~ rindu yang enggan beranjak
Meski mungkin terasa sesak
Saturday, October 29, 2011
Friday, October 28, 2011
Sepucuk Surat Yang Menguning
Aku ada
Jika kau bertanya pada angin, hembusannya akan sampai padaku
Jika kau titipkan pesan pada merpati, ia tak akan pernah tersesat menemukanku
Karena aku ada, di sini
Dengan sepucuk surat di tangan
Hanya mampu kugenggam erat-erat
Bersama segala kenangan yang melekat
Tak lagi merah jambu warnanya
Sepucuk surat yang menguning
Hanya mampu kugenggam erat-erat
Bersama segala kenang yang melekat
Surat cinta untukmu
Jika kau bertanya pada angin, hembusannya akan sampai padaku
Jika kau titipkan pesan pada merpati, ia tak akan pernah tersesat menemukanku
Karena aku ada, di sini
Dengan sepucuk surat di tangan
Hanya mampu kugenggam erat-erat
Bersama segala kenangan yang melekat
Tak lagi merah jambu warnanya
Sepucuk surat yang menguning
Hanya mampu kugenggam erat-erat
Bersama segala kenang yang melekat
Surat cinta untukmu
Saturday, October 01, 2011
Kepingan Mimpi Yang Terserak..
Pada huruf yang berderet,
awal mula sebuah pencarian ~
aku terbata mengeja kata,
entah cinta atau fatamorgana
Pada angka yang berjejer,
asal muasal sebuah penantian ~
aku tertatih mengejar waktu,
untuk sebuah kenang di masa lalu
Pada detik yang berdetak,
kali pertama adalah ragu ~
aku belajar mereka-reka,
untuk rindu yang masih meraba-raba
Lalu pada nadi yang berdenyut,
degup jantung adalah pinta ~
aku coba mencari-cari,
kepingan mimpi yang kini berserakan
awal mula sebuah pencarian ~
aku terbata mengeja kata,
entah cinta atau fatamorgana
Pada angka yang berjejer,
asal muasal sebuah penantian ~
aku tertatih mengejar waktu,
untuk sebuah kenang di masa lalu
Pada detik yang berdetak,
kali pertama adalah ragu ~
aku belajar mereka-reka,
untuk rindu yang masih meraba-raba
Lalu pada nadi yang berdenyut,
degup jantung adalah pinta ~
aku coba mencari-cari,
kepingan mimpi yang kini berserakan
Friday, September 30, 2011
Percakapan Dua Organ Manusia
Otak: Adakah yang abadi di dunia ini? Sepertinya tidak.
Hati: Cinta?
Otak: Apalagi cinta. Menurutmu, berapa kali aku harus bekerja ekstra keras untuk menjaga kewarasanku setiap kali kamu sakit?
Hati: Lalu? Kasih sayang?
Otak: Itu beda tipis sama cinta. Meski masih bisa aku terima karna ada yang dinamakan kasih sayang orang tua, terutama ibu. Itu mungkin abadi. Meski tidak semua.
Hati: Lalu apa lagi? Luka?
Otak: Mungkin. Tapi terkadang ada rasa yang aku sebut keikhlasan yang bisa mengobati luka.
Hati: Bagaimana dengan trauma?
Otak: Bisa jadi. Karena meskipun kita lupa atau bahkan amnesia, trauma itu akan tetap bisa kita rasakan. Itu alam bawah sadar kita yang bekerja. Tapi, sekarang kan ada yang namanya hipnoterapi. Trauma bisa kita hilangkan dengan itu.
Hati: Hmmm.... lalu?
Otak: Dari semua kemungkinan, aku memilih kenangan.
Hati: Kenapa?
Otak: Karena selama aku masih hidup, ingatanku akan selalu ada. Jauh di sudut ruang tersempit yang aku punya, semua kenangan tetap aku simpan. Amnesia? Lupa karena shock? Sayang.. ilmu yang tadi aku bilang itu, hipnoterapi, sudah mampu mengembalikan serpihan ingatan yang mungkin terlupa.
Hati: Hmmm.. Jadi.... kenangan. Apalagi yang abadi selain kenangan?
Otak: Hei hati. Itu pertanyaan yang belum sanggup aku temukan jawabannya.
Apalagi yang akan abadi selain kenangan, sayang??
Hati: Cinta?
Otak: Apalagi cinta. Menurutmu, berapa kali aku harus bekerja ekstra keras untuk menjaga kewarasanku setiap kali kamu sakit?
Hati: Lalu? Kasih sayang?
Otak: Itu beda tipis sama cinta. Meski masih bisa aku terima karna ada yang dinamakan kasih sayang orang tua, terutama ibu. Itu mungkin abadi. Meski tidak semua.
Hati: Lalu apa lagi? Luka?
Otak: Mungkin. Tapi terkadang ada rasa yang aku sebut keikhlasan yang bisa mengobati luka.
Hati: Bagaimana dengan trauma?
Otak: Bisa jadi. Karena meskipun kita lupa atau bahkan amnesia, trauma itu akan tetap bisa kita rasakan. Itu alam bawah sadar kita yang bekerja. Tapi, sekarang kan ada yang namanya hipnoterapi. Trauma bisa kita hilangkan dengan itu.
Hati: Hmmm.... lalu?
Otak: Dari semua kemungkinan, aku memilih kenangan.
Hati: Kenapa?
Otak: Karena selama aku masih hidup, ingatanku akan selalu ada. Jauh di sudut ruang tersempit yang aku punya, semua kenangan tetap aku simpan. Amnesia? Lupa karena shock? Sayang.. ilmu yang tadi aku bilang itu, hipnoterapi, sudah mampu mengembalikan serpihan ingatan yang mungkin terlupa.
Hati: Hmmm.. Jadi.... kenangan. Apalagi yang abadi selain kenangan?
Otak: Hei hati. Itu pertanyaan yang belum sanggup aku temukan jawabannya.
Apalagi yang akan abadi selain kenangan, sayang??
Wednesday, September 28, 2011
Senja Ketiga Tanpamu
Langit sore temaram
Menemani aku yang sedang muram
Di beranda rumahku,
di senja pertamaku
Awan kelabu berserakan
Tak lagi melukiskan sebuah senyuman
Rona mentari memerah ragu-ragu,
di senja keduaku
Dan lihat sayang,
Hari ini senja ketiga tanpamu
Aku masih duduk termangu
Terkadang bertanya sambil merindu
Kemana pergimu?
Katakan, jika aku menunggu
Apa semesta akan kembali menghadirkanmu?
Karna mungkin, rindu ini akan berdebu
Pada senja keempat tanpamu
Menemani aku yang sedang muram
Di beranda rumahku,
di senja pertamaku
Awan kelabu berserakan
Tak lagi melukiskan sebuah senyuman
Rona mentari memerah ragu-ragu,
di senja keduaku
Dan lihat sayang,
Hari ini senja ketiga tanpamu
Aku masih duduk termangu
Terkadang bertanya sambil merindu
Kemana pergimu?
Katakan, jika aku menunggu
Apa semesta akan kembali menghadirkanmu?
Karna mungkin, rindu ini akan berdebu
Pada senja keempat tanpamu
Tuesday, September 27, 2011
Hati-Hati, Hatiku...
Pergiku terhenti. Ada jejak yang harus kususuri.
Satu-satu. Dua-dua.
Mengarah tuju satu hati. Kau?
Di antara jejak langkah, kusebarkan serpihan rinduku.
Itu petunjuk untukmu.
Jalan menuju rumah, tempat kau rebahkan segala lelah.
Inginku melepas lelah, tapi hatimu menyerah.
Tahukah kamu? Aku hanya duduk di kamar sebelah.
Saksikan resahmu, kenikmatan untukku.
Mungkin dinding kamar bisa mendengar keluh kesah, tapi tidak bercerita.
Karena apa yang kukatakan bukanlah dusta.
Tapi dinding setia menunggu dalam resah, dalam susah.
Bagaimana dengan konstelasi hatimu yang terjebak dalam apologia semu?
Segala maaf hanya akan meninggalkan jejak baru.
Setapak demi setapak menuju hatimu yang beku.
Ingat sayang, tetesan rindu itu akan melubangi batu.
Hatimu yang beku..
Nanti, di musim yang entah.
PS:
Lagi. @omkit selalu menjadi penyempurna segala kegalauan...
Satu-satu. Dua-dua.
Mengarah tuju satu hati. Kau?
Di antara jejak langkah, kusebarkan serpihan rinduku.
Itu petunjuk untukmu.
Jalan menuju rumah, tempat kau rebahkan segala lelah.
Inginku melepas lelah, tapi hatimu menyerah.
Tahukah kamu? Aku hanya duduk di kamar sebelah.
Saksikan resahmu, kenikmatan untukku.
Mungkin dinding kamar bisa mendengar keluh kesah, tapi tidak bercerita.
Karena apa yang kukatakan bukanlah dusta.
Tapi dinding setia menunggu dalam resah, dalam susah.
Bagaimana dengan konstelasi hatimu yang terjebak dalam apologia semu?
Segala maaf hanya akan meninggalkan jejak baru.
Setapak demi setapak menuju hatimu yang beku.
Ingat sayang, tetesan rindu itu akan melubangi batu.
Hatimu yang beku..
Nanti, di musim yang entah.
PS:
Lagi. @omkit selalu menjadi penyempurna segala kegalauan...
Sunday, September 25, 2011
Ada Yang Hilang..
Saat bibirmu tak lagi memanggil namaku
Saat doamu tak lagi menyisipkan namaku
Saat barisan sajakmu tak lagi menuliskan namaku
Kamu tahu?
Ada yang hilang, rasanya..
Entah apa..
Masih kucari...
Yang hilang adalah kemampuan sel-sel otakmu untuk melupakan.
Baris-baris retoris hanya mengiris, bukan menutup luka empiris.
Karena pada luka yang mengiris, rasa miris selalu mengacu pada satu teori.
Kehilanganmu, adalah kehilangan duniaku secara holistik.
Luka itu delusi.
Aku bagian kecil partikel bumi.
Tak seharusnya memiriskan kupergi.
Kontemplasilah, tersenyumlah, berlarilah.
Sampai bumi berhenti berputar, kaki ini akan terus melangkah.
Patuh pada gravitasi, menjejaki tiap ruang kosong untuk menggenapi ketiadaanmu.
Aku tak pernah tiada. Hanya lepas sementara dari pandangan mata.
Bisakah pelankan isakmu?
Aku ingin khusyuk meninggalkanmu.
Dan pergimu, akan kembali membuat lubang baru di hati.
Ada yang hilang, lagi.
Entah apa kali ini.
Masih akan terus kucari...
Catatan kecil:
Ini adalah hasil samber-samberan via twitter bersama @omkit. Abang-abang yang akhirnya mengaku tua dan berganti panggilan menjadi om-om.
Saat doamu tak lagi menyisipkan namaku
Saat barisan sajakmu tak lagi menuliskan namaku
Kamu tahu?
Ada yang hilang, rasanya..
Entah apa..
Masih kucari...
Yang hilang adalah kemampuan sel-sel otakmu untuk melupakan.
Baris-baris retoris hanya mengiris, bukan menutup luka empiris.
Karena pada luka yang mengiris, rasa miris selalu mengacu pada satu teori.
Kehilanganmu, adalah kehilangan duniaku secara holistik.
Luka itu delusi.
Aku bagian kecil partikel bumi.
Tak seharusnya memiriskan kupergi.
Kontemplasilah, tersenyumlah, berlarilah.
Sampai bumi berhenti berputar, kaki ini akan terus melangkah.
Patuh pada gravitasi, menjejaki tiap ruang kosong untuk menggenapi ketiadaanmu.
Aku tak pernah tiada. Hanya lepas sementara dari pandangan mata.
Bisakah pelankan isakmu?
Aku ingin khusyuk meninggalkanmu.
Dan pergimu, akan kembali membuat lubang baru di hati.
Ada yang hilang, lagi.
Entah apa kali ini.
Masih akan terus kucari...
Catatan kecil:
Ini adalah hasil samber-samberan via twitter bersama @omkit. Abang-abang yang akhirnya mengaku tua dan berganti panggilan menjadi om-om.
Saturday, September 24, 2011
Penantian Malam..
Karena hanya malam yang mengerti,
mengapa rindu tak pernah mati
Bukan salah malam mengerti,
hukum cinta yang tak diberkati
Atau mungkin cinta tak mau tahu,
ada rindu yang selalu memburu
Cinta tak meminta rindu memburu,
hati yang selalu memaksamu
Atau mungkin hati tak mengerti,
kapan cinta harus direlakan pergi
Bila hati tak mengerti,
tahukah kau cara berotasi?
Atau mungkin sayang,
kau tahu cara mengemas hati yang ingin beranjak pulang?
Meski hati tak pernah ingin pergi,
hanya menanti untuk kau sapa kembali...
~Hasil meracau galau tengah malam bersama @omkit via Twitter~
mengapa rindu tak pernah mati
Bukan salah malam mengerti,
hukum cinta yang tak diberkati
Atau mungkin cinta tak mau tahu,
ada rindu yang selalu memburu
Cinta tak meminta rindu memburu,
hati yang selalu memaksamu
Atau mungkin hati tak mengerti,
kapan cinta harus direlakan pergi
Bila hati tak mengerti,
tahukah kau cara berotasi?
Atau mungkin sayang,
kau tahu cara mengemas hati yang ingin beranjak pulang?
Meski hati tak pernah ingin pergi,
hanya menanti untuk kau sapa kembali...
~Hasil meracau galau tengah malam bersama @omkit via Twitter~
Tuesday, September 20, 2011
Ketika Kita Saling Berbisik
Pelan-pelan katamu,
aku berjalan mendekat
lekatkan bibir dan telingaku ke arahmu
ketika kita saling berbisik
Jangan keras-keras katamu,
dinding ikut mendengar
tentang canda dan tawa kita seharian tadi
ketika kita saling berbisik
Diam-diam saja katamu,
ungkapan cinta yang rahasia
cukup kau katakan padaku
ketika kita saling berbisik
*(Dan, kau semat kata-kata dalam hambur nafasmu di telinga, biar kita saja yang merasa..)
*: Bisikan untuk sebuah penghabisan yang indah dari @greenziezt..
aku berjalan mendekat
lekatkan bibir dan telingaku ke arahmu
ketika kita saling berbisik
Jangan keras-keras katamu,
dinding ikut mendengar
tentang canda dan tawa kita seharian tadi
ketika kita saling berbisik
Diam-diam saja katamu,
ungkapan cinta yang rahasia
cukup kau katakan padaku
ketika kita saling berbisik
*(Dan, kau semat kata-kata dalam hambur nafasmu di telinga, biar kita saja yang merasa..)
*: Bisikan untuk sebuah penghabisan yang indah dari @greenziezt..
Wednesday, September 14, 2011
Sampai Jumpa, Fan...
Aku tahu, dunia adalah persinggahan sementara untuk kita. Setelah urusan kita selesai, akan ada satu hal, yang kusebut ajal, yang akan menjemput kita.
Bukan lupa bila aku berpura-pura. Ingatku adalah abadi untuk itu. Mungkin takut atau hanya ingin lupa.
Ah hidup sudah terlalu rumit.
Hanya percaya, pada setiap pertemuan pasti ada akhir. Dan pada setiap perpisahan, pasti akan ada pertemuan baru. Entah kapan.
Jadi, selesai sudah tangisku untukmu, Fan.
Aku hapus air mata ini, agar kamu di sana merasa lega, tak lagi menyisakan tangis untuk seluruh pencintamu.
Toh, nanti juga kita pasti akan bertemu kan?
Di waktu yang entah...
Pada dunia yang entah...
Sampai Jumpa, dr. Annisa Erawan.....
(Tak ada kata yang bisa melebihi doa untukmu Fan.. Bahagia di sana ya.. Terus awasi kami yaa, terutama pasangan jiwamu, Apri, dari atas sana. Semoga kebahagiaan adalah memang miliknya. Meski dalam bentuk yang mungkin, hanya Tuhan dan kamu Fan, yang tau....)
Bukan lupa bila aku berpura-pura. Ingatku adalah abadi untuk itu. Mungkin takut atau hanya ingin lupa.
Ah hidup sudah terlalu rumit.
Hanya percaya, pada setiap pertemuan pasti ada akhir. Dan pada setiap perpisahan, pasti akan ada pertemuan baru. Entah kapan.
Jadi, selesai sudah tangisku untukmu, Fan.
Aku hapus air mata ini, agar kamu di sana merasa lega, tak lagi menyisakan tangis untuk seluruh pencintamu.
Toh, nanti juga kita pasti akan bertemu kan?
Di waktu yang entah...
Pada dunia yang entah...
Sampai Jumpa, dr. Annisa Erawan.....
(Tak ada kata yang bisa melebihi doa untukmu Fan.. Bahagia di sana ya.. Terus awasi kami yaa, terutama pasangan jiwamu, Apri, dari atas sana. Semoga kebahagiaan adalah memang miliknya. Meski dalam bentuk yang mungkin, hanya Tuhan dan kamu Fan, yang tau....)
Friday, September 09, 2011
Aku Lupa
Teruntuk Afrila Viebry:
Aku lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Ah, cinta membuatku amnesia.
Aku lupa aku jatuh cinta ~ aku lupa, aku merindu.
Ah, rindu membuatku mati gaya.
Aku lupa aku merindu ~ aku lupa, aku melangkah maju.
Ah, langkahku sia-sia.
Aku lupa aku melangkah ~ aku lupa, aku bermimpi.
Ah, mimpi membuatku tak berdaya.
Aku lupa aku bermimpi ~ aku lupa, aku terhempaskan.
Ah, hempasan membuatku terluka.
Dan aku selalu lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Aku lupa cinta itu telah mati.
Aku lupa, kumakamkan kau dalam hati.
Catatan kecil:
Na, cinta itu yaaaa... begitulah. Meski sakit, tetap saja segala luka akan bertekuk lutut di hadapan cinta. Pada cinta yang tepat, di saat yang tepat...
Aku lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Ah, cinta membuatku amnesia.
Aku lupa aku jatuh cinta ~ aku lupa, aku merindu.
Ah, rindu membuatku mati gaya.
Aku lupa aku merindu ~ aku lupa, aku melangkah maju.
Ah, langkahku sia-sia.
Aku lupa aku melangkah ~ aku lupa, aku bermimpi.
Ah, mimpi membuatku tak berdaya.
Aku lupa aku bermimpi ~ aku lupa, aku terhempaskan.
Ah, hempasan membuatku terluka.
Dan aku selalu lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Aku lupa cinta itu telah mati.
Aku lupa, kumakamkan kau dalam hati.
Catatan kecil:
Na, cinta itu yaaaa... begitulah. Meski sakit, tetap saja segala luka akan bertekuk lutut di hadapan cinta. Pada cinta yang tepat, di saat yang tepat...
Genggaman Tangan Keriput
Di tepi senja, sepasang merpati terbang beriringan
Kita duduk di bangku taman,
Berbicara tentang waktu dan segala ketidakpastiannya
Kelak,
Saat rambut memutih pasi
Belaian lembutmu yang kuingin ada di kepalaku
Nanti,
Saat tongkat harus menyangga kakiku
Bahumu yang aku mau untuk menopangku
Ketika,
Mata sudah mulai meredup cahayanya
Wajahmu yang aku harap hiasi kelamku
Karena sayang,
Pada akhirnya, genggaman jemari hangatmu,
Adalah hasil dari segala doa pada siang dan malamku
Ketika saatnya tiba, nanti.
(Terinspirasi oleh pasangan Kakek-Nenek yang kulihat tadi pagi, dengan aura kasih sayang yang ikut memancarkan kebahagiaan dan doa untukku...)
Kita duduk di bangku taman,
Berbicara tentang waktu dan segala ketidakpastiannya
Kelak,
Saat rambut memutih pasi
Belaian lembutmu yang kuingin ada di kepalaku
Nanti,
Saat tongkat harus menyangga kakiku
Bahumu yang aku mau untuk menopangku
Ketika,
Mata sudah mulai meredup cahayanya
Wajahmu yang aku harap hiasi kelamku
Karena sayang,
Pada akhirnya, genggaman jemari hangatmu,
Adalah hasil dari segala doa pada siang dan malamku
Ketika saatnya tiba, nanti.
(Terinspirasi oleh pasangan Kakek-Nenek yang kulihat tadi pagi, dengan aura kasih sayang yang ikut memancarkan kebahagiaan dan doa untukku...)
Thursday, September 08, 2011
After The Rain..
Senja ini, aku terduduk di beranda rumahku
Memandangi langit kemerahan itu
Sekali lagi
Dan entah kenapa,
Sesekali tampak awan menyerupai wajahmu di situ
Tetiba langit mendadak kelam
Seolah ikut bersedih untukku
Ah, rupanya semesta tahu aku merindu
Lagi, dan entah untuk yang keberapa kali
Tetes hujan mulai turun
Gigil mulai merasuki aku
Yang tak kau tau,
Di hatiku, hujan itu turun lebih deras lagi
Hingga mata tak sanggup menahan bulir airnya
Dan sayang...
Yang juga tak akan pernah kau ketahui
Bahwa setelah hujan mereda,
Rintik hujan di hatiku belum juga reda
Entah sampai kapan..
Memandangi langit kemerahan itu
Sekali lagi
Dan entah kenapa,
Sesekali tampak awan menyerupai wajahmu di situ
Tetiba langit mendadak kelam
Seolah ikut bersedih untukku
Ah, rupanya semesta tahu aku merindu
Lagi, dan entah untuk yang keberapa kali
Tetes hujan mulai turun
Gigil mulai merasuki aku
Yang tak kau tau,
Di hatiku, hujan itu turun lebih deras lagi
Hingga mata tak sanggup menahan bulir airnya
Dan sayang...
Yang juga tak akan pernah kau ketahui
Bahwa setelah hujan mereda,
Rintik hujan di hatiku belum juga reda
Entah sampai kapan..
Friday, August 26, 2011
CINTAKU BUTA
Gelap.
Itu kata pertama yang ada di pikiranku saat tersadar dari tidur panjangku. Dengan lemah kucoba mengangkat tanganku, meraba-raba meski yang terasa hanyalah hampa.
"Dis? Kamu udah sadar?" sebuah suara lembut dan menenangkan menyapaku. Dengan usapan lembut di kepalaku. Aku langsung merasa lega. Segera aku buka mulutku, mencoba berkata sesuatu, tapi sebuah suara lain mengganggu konsentrasiku.
"Dis? Alhamdulillah.. Akhirnya kamu sadar. " kali ini belaian lembut di tanganku yang terasa. Aku urungkan niatku untuk membuka mulut dan bersuara.
Suara gaduh berikutnya dari mama dan papa tidak terlalu aku hiraukan. Begitu juga dengan kegaduhan saat dokter datang tak lama sesudahnya. Aku mengangguk seadanya dan menjawab secukupnya saat ditanya. Aku hanya terlalu sibuk berpikir. Siapa pemilik kedua suara merdu tadi? Kuputar kembali memoriku, ah!
Aldy dan Asta.
Ingatanku langsung beralih pada kejadian sebelum aku terbaring di rumah sakit. Aku sedang bersama Asta saat itu. Dalam perjalanan pulang sehabis merayakan ulang tahun temanku yang lain. Itu alasan yang aku katakan pada Aldy, pacarku. Kenyataannya, malam itu aku bersama Asta. Malam dimana kecelakaan itu terjadi, sesudah Asta menurunkanku di gang depan rumahku. Yang tidak aku mengerti, bagaimana mereka berdua bisa berada disini, pada waktu yang bersamaan?
Aaaaaaarrrrrggghhhhhhhh..!!!!!!!
Kepalaku semakin sakit. Dan kegelapan ini, sungguh menyiksa. Aku takut gelap. Sangat. Dengan gemas kuangkat tanganku perlahan. Mencoba meraih perban yang menutupi mataku dan membukanya dengan paksa. Sampai kedua suara itu menghentikanku.
"Dis, jangan..."
"Disty.. kamu ngapain? Perbannya belum boleh dibuka"
Aku terdiam. Ada belaian lembut dikepalaku. Aku tau itu Aldy, pacarku.
"Dis...tenang. Kamu udah nggak pa-pa. Aku disini buat kamu..." nada bicaranya terdengar agak dipaksakan dan kasar. Sesaat aku bingung, lalu kemudian aku ingat, ada Asta di situ.
Ah, Asta. Lelaki lain yang akhir-akhir ini sanggup menggetarkan hatiku selain Aldy. Ya Tuhan!
Tapi ternyata, ingatanku tentang Tuhan dan dosa hanya berhenti sampai di situ. Karena usapan hangat ditanganku, sukses membuyarkan konsentrasiku.
Ah sudahlah. Aku tidak perduli lagi.
Sengaja, kupegang tangannya. Di depan kekasihku. 'Mumpung masih di Rumah Sakit,' batinku.
Urusan lain, kupikirkan nanti. Sekarang, aku hanya ingin menikmati genggaman ini saja.
Based on:
RT @Olga_imoet: CINTAKU BUTA. Sengaja, kupegang tangannya. Di depan kekasihku. 'Mumpung masih di Rumah Sakit,' batinku. @fiksimini
Itu kata pertama yang ada di pikiranku saat tersadar dari tidur panjangku. Dengan lemah kucoba mengangkat tanganku, meraba-raba meski yang terasa hanyalah hampa.
"Dis? Kamu udah sadar?" sebuah suara lembut dan menenangkan menyapaku. Dengan usapan lembut di kepalaku. Aku langsung merasa lega. Segera aku buka mulutku, mencoba berkata sesuatu, tapi sebuah suara lain mengganggu konsentrasiku.
"Dis? Alhamdulillah.. Akhirnya kamu sadar. " kali ini belaian lembut di tanganku yang terasa. Aku urungkan niatku untuk membuka mulut dan bersuara.
Suara gaduh berikutnya dari mama dan papa tidak terlalu aku hiraukan. Begitu juga dengan kegaduhan saat dokter datang tak lama sesudahnya. Aku mengangguk seadanya dan menjawab secukupnya saat ditanya. Aku hanya terlalu sibuk berpikir. Siapa pemilik kedua suara merdu tadi? Kuputar kembali memoriku, ah!
Aldy dan Asta.
Ingatanku langsung beralih pada kejadian sebelum aku terbaring di rumah sakit. Aku sedang bersama Asta saat itu. Dalam perjalanan pulang sehabis merayakan ulang tahun temanku yang lain. Itu alasan yang aku katakan pada Aldy, pacarku. Kenyataannya, malam itu aku bersama Asta. Malam dimana kecelakaan itu terjadi, sesudah Asta menurunkanku di gang depan rumahku. Yang tidak aku mengerti, bagaimana mereka berdua bisa berada disini, pada waktu yang bersamaan?
Aaaaaaarrrrrggghhhhhhhh..!!!!!!!
Kepalaku semakin sakit. Dan kegelapan ini, sungguh menyiksa. Aku takut gelap. Sangat. Dengan gemas kuangkat tanganku perlahan. Mencoba meraih perban yang menutupi mataku dan membukanya dengan paksa. Sampai kedua suara itu menghentikanku.
"Dis, jangan..."
"Disty.. kamu ngapain? Perbannya belum boleh dibuka"
Aku terdiam. Ada belaian lembut dikepalaku. Aku tau itu Aldy, pacarku.
"Dis...tenang. Kamu udah nggak pa-pa. Aku disini buat kamu..." nada bicaranya terdengar agak dipaksakan dan kasar. Sesaat aku bingung, lalu kemudian aku ingat, ada Asta di situ.
Ah, Asta. Lelaki lain yang akhir-akhir ini sanggup menggetarkan hatiku selain Aldy. Ya Tuhan!
Tapi ternyata, ingatanku tentang Tuhan dan dosa hanya berhenti sampai di situ. Karena usapan hangat ditanganku, sukses membuyarkan konsentrasiku.
Ah sudahlah. Aku tidak perduli lagi.
Sengaja, kupegang tangannya. Di depan kekasihku. 'Mumpung masih di Rumah Sakit,' batinku.
Urusan lain, kupikirkan nanti. Sekarang, aku hanya ingin menikmati genggaman ini saja.
Based on:
RT @Olga_imoet: CINTAKU BUTA. Sengaja, kupegang tangannya. Di depan kekasihku. 'Mumpung masih di Rumah Sakit,' batinku. @fiksimini
Tuesday, August 23, 2011
Untuk Gadis Manis yang (Semoga Saja) Tidak Akan Pernah Menjadi Pasienku
Dear kamu,
Iya kamu! Cewe manis yang sedang duduk sendirian di kamar, di atas kasur empukmu, sambil memegang Blackberry tercintamu. Tau ngga sekarang sudah jam berapa? Coba intip sebentar keluar jendelamu. Senja hampir menghilang dan menenggelamkan matahari. Dan kamu, iya kamu, masih saja setia dengan benda kecil berteknologi tinggi itu.
Boleh aku bertanya satu hal? Kamu, sudah mandi belum? Ah, seperti yang aku duga. Pasti belum.
Duh kamu, mandi dong! Gimana kalau masuk angin karna mandi kemaleman? Seandainya aku ada di deket kamu, pasti udah aku jewer kamunya. Huuh.. Itu tanda sayang aku loh, tau?
Seperti perhatian aku saat menjawab semua DM-DM kamu, khawatirnya aku saat mendengar keluhanmu...
Jadi, kamu musti nurut yah.. Ah, memang sih aku dokter. Tapi justru itulah alasan tambahan biar kamu mau nurut sama aku. Hehehehe... Yah, dimulai dari hal kecil. Jangan suka mandi malam-malam, contohnya. Simple kan? Kalau kamu sehat, jiwa kamu juga insyaAllah sehat, dan pastinya, hati kamu pun punya kesempatan untuk sembuh lebih cepat, karna kamu selalu bersyukur.
Nah, sekarang, matikan dulu ya Blackberry tercintamu. Istirahatkan sejenak mata dan jempolmu serta hatimu dari keramaian dunia maya. Karna kamu punya sesuatu dalam nyata yang harus kamu
perhatikan juga. Mandi, oke? Sebelum hangat mentari senja benar-benar tertutupi oleh dinginnya malam.
Karna sungguh, aku selalu berharap agar kamu tidak akan pernah (harus atau terpaksa) menjadi pasienku, Dea...
Temanmu yang siap kamu ajak untuk berkonsultasi kapan saja,
Olga 'imoet' Leodirista
Notes:
#suratcinta untuk Gadis (yang sepertinya) manis, Descha Sasta Vyana a.k.a @DeschaVyana on twitter
Iya kamu! Cewe manis yang sedang duduk sendirian di kamar, di atas kasur empukmu, sambil memegang Blackberry tercintamu. Tau ngga sekarang sudah jam berapa? Coba intip sebentar keluar jendelamu. Senja hampir menghilang dan menenggelamkan matahari. Dan kamu, iya kamu, masih saja setia dengan benda kecil berteknologi tinggi itu.
Boleh aku bertanya satu hal? Kamu, sudah mandi belum? Ah, seperti yang aku duga. Pasti belum.
Duh kamu, mandi dong! Gimana kalau masuk angin karna mandi kemaleman? Seandainya aku ada di deket kamu, pasti udah aku jewer kamunya. Huuh.. Itu tanda sayang aku loh, tau?
Seperti perhatian aku saat menjawab semua DM-DM kamu, khawatirnya aku saat mendengar keluhanmu...
Jadi, kamu musti nurut yah.. Ah, memang sih aku dokter. Tapi justru itulah alasan tambahan biar kamu mau nurut sama aku. Hehehehe... Yah, dimulai dari hal kecil. Jangan suka mandi malam-malam, contohnya. Simple kan? Kalau kamu sehat, jiwa kamu juga insyaAllah sehat, dan pastinya, hati kamu pun punya kesempatan untuk sembuh lebih cepat, karna kamu selalu bersyukur.
Nah, sekarang, matikan dulu ya Blackberry tercintamu. Istirahatkan sejenak mata dan jempolmu serta hatimu dari keramaian dunia maya. Karna kamu punya sesuatu dalam nyata yang harus kamu
perhatikan juga. Mandi, oke? Sebelum hangat mentari senja benar-benar tertutupi oleh dinginnya malam.
Karna sungguh, aku selalu berharap agar kamu tidak akan pernah (harus atau terpaksa) menjadi pasienku, Dea...
Temanmu yang siap kamu ajak untuk berkonsultasi kapan saja,
Olga 'imoet' Leodirista
Notes:
#suratcinta untuk Gadis (yang sepertinya) manis, Descha Sasta Vyana a.k.a @DeschaVyana on twitter
Monday, August 22, 2011
Kamu Pikir Aku Tak Takut???
Pada ajal yang kutahu pasti, akan segera menjemput setelah segala urusan kita di dunia ini selesai
Pada kelam malam yang mencekam, berada di antara mimpi-mimpi yang membawaku ke dunia antah berantah
Pada kesunyian yang sedemikian senyap, tanpa pernah kudengar sapa dan hela yang terurai dari bibirmu
Pada ketiadaan yang menghempaskanku kembali ke dunia nyata, memaknai kehidupan bersama kekosongan cinta, darimu
Aku takut sayang..
Sebanyak dan sedalam seluruh ketakutan yang bisa aku ungkapkan dalam menghadapi hari esok tanpamu...
Pada kelam malam yang mencekam, berada di antara mimpi-mimpi yang membawaku ke dunia antah berantah
Pada kesunyian yang sedemikian senyap, tanpa pernah kudengar sapa dan hela yang terurai dari bibirmu
Pada ketiadaan yang menghempaskanku kembali ke dunia nyata, memaknai kehidupan bersama kekosongan cinta, darimu
Aku takut sayang..
Sebanyak dan sedalam seluruh ketakutan yang bisa aku ungkapkan dalam menghadapi hari esok tanpamu...
Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Ada kesunyian merambati dinding-dinding kamarku
Dingin.. aku sesekali menggigil dan merasakan gemeletuk gigiku
Yang tidak aku mengerti, hati ini pun ikut membeku
Meski kemarau saat ini
Dedaunan di luar jendela kamarku menguning
Berguguran serupa mimpi yang terhempas oleh pagi
Lantas, apa sebenarnya yang berhembus di sekitar tubuhku ini?
Anginkah?
Angankah?
Entah..
Bahkan jam dinding itu bergerak sangat perlahan
Mungkin lupa
Mungkin sengaja
Memberi sedikit jeda pada setiap koma tempatku menunggu
Meski nanti di titik akhir,
mungkin aku yang akan berlalu
(Hanya lelah menunggu..)
Dingin.. aku sesekali menggigil dan merasakan gemeletuk gigiku
Yang tidak aku mengerti, hati ini pun ikut membeku
Meski kemarau saat ini
Dedaunan di luar jendela kamarku menguning
Berguguran serupa mimpi yang terhempas oleh pagi
Lantas, apa sebenarnya yang berhembus di sekitar tubuhku ini?
Anginkah?
Angankah?
Entah..
Bahkan jam dinding itu bergerak sangat perlahan
Mungkin lupa
Mungkin sengaja
Memberi sedikit jeda pada setiap koma tempatku menunggu
Meski nanti di titik akhir,
mungkin aku yang akan berlalu
(Hanya lelah menunggu..)
Friday, August 19, 2011
Doa Untuk Sang Pencinta
Aku menamakanmu mimpi, untuk segala harap dan angan yang terabaikan
Di sisi jalan setapak, detak detik terdengar melambat
Kita, saling memunggungi di persimpangan jalan
Musim yang kuingat adalah gugur, jatuhnya daun-daun harapan di hatimu
Telaga tempatmu melabuhkan mimpi tidaklah terlalu lebar, sayang
Mungkin dalam, hingga kau terus tenggelam di antara waktu yang enggan berlalu
Menyatu bersama segala-gala yang kau kenang
Dan cinta, hiduplah tanpa harus meredup
Meski pendar perlahan tenggelam dalam linangan air mata
(Untukmu, dengan segala cinta yang LuarBiasa untukku)
Di sisi jalan setapak, detak detik terdengar melambat
Kita, saling memunggungi di persimpangan jalan
Musim yang kuingat adalah gugur, jatuhnya daun-daun harapan di hatimu
Telaga tempatmu melabuhkan mimpi tidaklah terlalu lebar, sayang
Mungkin dalam, hingga kau terus tenggelam di antara waktu yang enggan berlalu
Menyatu bersama segala-gala yang kau kenang
Dan cinta, hiduplah tanpa harus meredup
Meski pendar perlahan tenggelam dalam linangan air mata
(Untukmu, dengan segala cinta yang LuarBiasa untukku)
Monday, August 15, 2011
Jantung Hati
Di jantungmu kutanamkan kata
Serupa sunyi yang terikat hampa
Serupa senyap yang terbuai mimpi belaka
Setiap aliran nadimu adalah cinta
Merengkuh peluk dalam hening yang tak lagi nyata
Dalam detakmu, hadir sebuah tanya
Dan puisi, adalah kunci untuk melepaskanmu dari kekosongan makna
Serupa sunyi yang terikat hampa
Serupa senyap yang terbuai mimpi belaka
Setiap aliran nadimu adalah cinta
Merengkuh peluk dalam hening yang tak lagi nyata
Dalam detakmu, hadir sebuah tanya
Dan puisi, adalah kunci untuk melepaskanmu dari kekosongan makna
Subscribe to:
Posts (Atom)
